KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo
Selain Jokowi, Hashim Ngaku Juga Ingatkan Edhy soal Ekspor Benur: Pak Prabowo Tidak Mau Monopoli
Hashim Djojohadikusumo mengaku pernah mengingatkan Edhy agar jangan memonopoli kegiatan ekspor benur.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
Hashim bercerita, pada saat itu Prabowo sempat mengungkit masa lalu ketika mengangkat Edhy dari keterpurukan.
Berdasarkan cerita Hashim, Prabowo saat itu meluapkan kemarahannya dalam bahasa Inggris karena ia dan kakaknya itu sudah lama tinggal di luar negeri.
"Dan terus terang saja, dia bilang ke saya, dia sangat kecewa dengan anak yang dia angkat dari selokan 25 tahun lalu," kata Hashim.
"I picked him up from the gutter, and this is what he does to me," sambung Hashim mengungkapkan secara detil apa yang dikatakan Prabowo kala itu.
Baca juga: Nantikan Sikap Prabowo soal Kasus Edhy Prabowo, Rocky Gerung: Gerindra Kehilangan Momentum
Pernah Diwanti-wanti Jokowi soal Bibit Lobster
Jauh sebelum Edhy ditangkap oleh KPK, dirinya ternyata pernah diwanti-wanti oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) soal kegiatan ekspor benur atau bibit lobster.
Sebelumnya diberitakan, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pernah membahas persoalan ekspor benih lobster yang ramai didebatkan oleh Menteri KKP terdahulu Susi Pudjiastuti dan Menteri KKP saat ini Edhy Prabowo.
Dikutip TribunWow.com dari Kanal Youtube Sekretariat Presiden, Senin (17/12/2019), Jokowi mulanya menyerahkan detil urusan tersebut ke Menteri KKP.
Ia lanjut mengatakan apa yang menjadi prioritas adalah kesejahteraan masyarakat dan kesehatan lingkungan.
"Ditanyakan ke Menteri KKP Pak Edhy Prabowo," kata Jokowi saat meresmikan Tol Balikpapan-Samarinda Seksi Samboja-Samarinda, Selasa (17/12/2019).
"Yang paling penting menurut saya negara mendapat manfaat, nelayan mendapatkan manfaat, lingkungan tidak rusak, yang penting itu," tambahnya.
Baca juga: Sebut Edhy Prabowo Jantan, Effendi Gazali Akui Gagal Jadi Penasihat: Saya Tetap Temannya
Ketika melakukan ekspor benih lobster, ada beberapa hal yang diinginkan oleh Jokowi.
Hal tersebut di antaranya adalah nilai tambah berada di Indonesia, memerhatikan nilai ekonomi, dan juga memerhatikan pelestarian lingkungan hidup.
"Nilai tambah ada di dalam negeri, dan ekspor dan tidak ekspor itu hitungannya dari situ," papar Jokowi.
"Kita tidak hanya melihat lingkungan saja, tapi nilai ekonominya juga dilihat."