Pilkada Serentak 2020
Tawarkan Cara Atasi Narkoba, Gibran Rakabuming: Bandar dan Perdagangannya di Solo Harus Disikat
Gibran Rakabuming Raka mengatakan dirinya dengan Teguh Prakosa bertekad akan membasmi peredaran narkoba andai mendapatkan amanah memimpin Solo.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
"Lalu kita juga akan bekerja dengan BNN, ini bandar-bandar narkoba, perdangangan gelap narkoba di Solo harus disikat," ungkapnya.
Lebih lanjut, selain langkah represif, Gibran juga akan menggalakkan langkah preventif, yakni dengan cara menyediakan wadah untuk menampung bakat-bakat kreatifitas anak-anak muda.
"Agar anak-anak Solo mempunyai tempat untuk bisa mencurahkan kreativitasnya, saya akan membuat program kreativitas dan membuat public space agar anak-anak Solo bisa membentuk ekosistem yang produktif yang dikomandoi oleh anak-anak muda," kata Gibran.
"Saya yakin dengan space-space yang produktif seperti ini, anak muda akan terhindar dari narkoba," pungkasnya.
Simak videonya mulai menit ke- 4.10:
Beda Gaya Gibran Vs Bagyo di Debat Pilkada Solo
Dua pasangan calon (paslon) di Pilkada Solo 2020, yakni Gibran Rakabuming Raka dengan Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyono dengan FX Supardjo mengikuti debat perdana jelang Pilkada Solo 2020.
Debat tersebut dilakukan di Hotel The Sunan, Solo, Jumat (6/11/2020).
Dilansir TribunWow.com, keduanya memulai debat dengan pemaparan visi dan misi untuk Kota Solo.

Baca juga: Tak Bisa Jawab Keunggulan Dirinya atas Gibran, Bagyo: Saya Tidak Punya Kapasitas untuk Menilai
Sebagai gambaran Gibran-Teguh memiliki tujuan untuk mewujudkan Kota Solo sebagai kota budaya yang modern, gesit, tangguh, kreatif dan sejahtera.
Sedangkan dari Bagyo-Wahyono meningkatkan papan, sandang, pangan (tempat, pakaian, dan makanan) di Kota Solo.
Terlepas dari visi dan misi kedua calon, Pengamat Ketatanegaraan Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto memiliki pandangan terkait perbedaan gaya dan sikap dari khususnya Gibran dengan Bagyo.
Dikutip dari TribunSolo.com, Sabtu (7/11/2020), Agus menilai ada perbedaan yang cukup mendasar.
Menurutnya, Gibran, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu dinilai terlihat begitu emosional setiap kali menyampaikan gagasannya.
Sehingga menurutnya justru menganggu poin yang disampaikan.