UU Cipta Kerja
Sebut Aksi Demo Tolak UU Cipta Kerja Ada Permainan Politik, Ade Armando: Bukan Murni Dilakukan Buruh
Dosen Ilmu Komunikasi UI, Ade Armando memberikan pandangannya terkait kerusuhan dalam aksi demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando memberikan pandangannya terkait kerusuhan dalam aksi demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Dilansir TribunWow.com, Ade Armando menilai bahwa kondisi kerusuhan tersebut dipengaruhi oleh pihak-pihak lain yang mencoba memainkan politik.
Hal itu diungkapkannya adalam acara Rosi 'KompasTV', Kamis (15/10/2020).

Baca juga: KAMI Bahaya bagi Pemerintah Jokowi? Mahfud MD Justru Ragukan Sikap Kritis dari Gatot Nurmantyo dkk
Dirinya juga menyakini bahwa dalang kerusuhan dalam demo tersebut bukan disebabkan oleh para kaum buruh.
Menurutnya, hanya kaum buruhlah yang benar-benar berjuang menolak UU Cipta Kerja dan tidak akan membuat kegaduhan.
"Persoalannya ada begitu banyak orang yang berada di luar organisasi-organisasi buruh tersebut," ujar Ade Armando.
"Dan saya duga ada permainan politik dari kalangan-kalangan tertentu yang memang ingin menjadikan demonstrasi anti UU Cipta Kerja ini bukan untuk tujuan membela kaum buruh, tetapi untuk tujuan-tujuan politik yang lebih sempit sifatnya," jelasnya.
Ade Armando mengatakan bahwa pihak-pihak lain di luar buruh yang ikut demo bisa dikatakan tidak memiliki tujuan yang jelas dan hanya sebatas ikut-ikutan.
Hal itu dibuktikan dengan beberapa oknum yang ditangkap atas kericuhan demo bukanlah dari kalangan buruh.
"Kalau yang protes itu adalah kaum buruh, atleast (setidaknya-red), kaum buruh itu orang yang saya duga sehari-harinya cukup kenal dengan pasal-pasal yang mereka persoalkan," katanya.
"Tetapi yang menjadi kegaduhan adalah ketika kita melihat secara kasat mata, orang-orang yang tertangkap itu adalah orang-orang yang jelas ikut-ikutan," imbuhnya.
"Dan ini jelas tujuannya menurut saya betul-betul tidak ada kaitannya dengan membela kaum buruh."
Baca juga: Sebut Pemerintah Selalu Cari Kambing Hitam Demo, Refly Harun: Kali Ini KAMI dan Gatot Nurmantyo
Lebih lanjut, Ade Armando menyinggung soal tujuan lain dari aksi tersebut, selain untuk memperjuangkan nasib buruh.
Yakni dikatakannya ada pihak yang sengaja mengikuti demo hanya ingin menciptakan kegaduhan atuapun menyerang pemerintah untuk memecah belah.
"Sejak awal seruan-seruan demo 8 Oktober itu bunyinya betul-betul menakutkan, misalnya 'turunkan Jokowi', 'bubarkan DPR', 'bangun dewan rakyat'," ungkap Ade Armando.
"Kemudian 'Kepung istana, acara di mulai jam 10 sampai akhirnya kita menang'. Saya yakin itu datang bukan dari kaum buruh yang murni," terangnya.
"Kelompok-kelompok inilah yang menciptakan teater besar tersebut yang sebetulnya mereka tanpa rasa peduli, itu sebetulnya ingin memecah belah Indonesia," pungkasnya.
Simak videonya mulai menit ke- 8.00:
Ade Armando Sebut KAMI Sengaja 'Disasar' Jadi Dalang Demo
Pakar komunikasi politik Ade Armando menanggapi ditangkapnya sejumlah aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Rosi di Kompas TV, Kamis (15/10/2020).
Diketahui tiga petinggi KAMI yakni Jumhur Hidayat, Anton Permana, dan Syahganda Nainggolan karena diduga terlibat dalam kericuhan demo tolak omnibus law UU Cipta Kerja.
Selain itu, ada sejumlah aktivis lain di KAMI Medan yang ditangkap.

Baca juga: Aktivis KAMI Ditangkap Bukan soal Demo, tapi Kritis? Mahfud MD Sindir: Apa Kritisnya? Enggak Ada
Ade Armando lalu menilai ada makna lain di balik penangkapan aktivis KAMI tersebut.
"Kita harus lihat sebenarnya penangkapan delapan orang ini tuduhannya bukan menjadi dalang, bukannya mengorganisir gerakan kerusuhan," komentar Ade Armando.
Hal itu ia lihat dari pasal yang digunakan untuk menjerat para aktivis KAMI adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan tuduhan menghasut yang menyebabkan kebencian.
"Jadi betul-betul yang dipakai adalah pasal yang paling aman saja, mereka memang menggunakan medsos untuk menyulut kemarahan," komentar Ade.
Pakar komunikasi itu menganggap hal ini sebagai fakta yang menarik.
Pasalnya, secara politik terkesan KAMI memang sengaja disasar pemerintah.
Selain itu, aktivis KAMI menjadi sasaran dugaan dalang di balik kerusuhan yang berniat menjatuhkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Ini artinya KAMI sekarang, kalau kita baca dari komunikasi politiknya, betul-betul dijadikan kelompok yang dijadikan sasaran," ungkap Ade Armando.
"Diduga merekalah yang terlibat dalam apa yang dituduhkan kerusuhan-kerusuhan yang disengaja untuk menjatuhkan Jokowi," jelasnya.
Baca juga: Polisi Ungkap Isi Pesan Grup WA KAMI Medan, Provokasi atas Kerusuhan Demo Tolak UU Cipta Kerja
Meskipun begitu, Ade menilai hal ini bukan berarti pengalihan isu dari persoalan utama, yakni UU Cipta Kerja yang menjadi objek protes masyarakat.
"Kita enggak bisa katakan, kalau ada gerakan kelompok orang yang sengaja ingin memanas-manasi keadaan sehingga terjadi kerusuhan. Dan itu kerusuhannya jelas-jelas terencana," komentar Ade.
Ade menambahkan, dirinya tidak menampik memang ada koordinator yang mengatur jalannya demo dan kerusuhan, bahkan melibatkan kalangan pelajar.
"Dan itu kerusuhannya jelas-jelas terencana. Ada yang membawa bom molotov, ada anak-anak yang membawa ketapel, ada orang-orang yang membawa senjata tajam, orang-orang yang sebetulnya tidak paham apa yang dipersoalkan tapi terlibat," paparnya.
"Anak-anak STM, anak-anak SMA, anak-anak SMP, oran-orang yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan buruh, itu semua memang ada yang mengorganisir," jelas Ade. (TribunWow/Elfan/Brigita)