Breaking News:

Pilkada Serentak 2020

Bahas Politik Dinasti, Sandiaga Uno Dukung Keponakan Prabowo di Pilkada 2020: Rakyat yang Menentukan

Sandiaga Uno mengaku dirinya siap untuk berkampanye mendukung Rahayu Saraswati dalam Pilkada 2020 Tangerang Selatan.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Claudia Noventa
YouTube Talk Show tvOne
Mantan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno dalam acara HOT INDONESIA, Minggu (9/8/2020). Sandiaga mengomentari keputusan keponakan Prabowo Subianto yang terjun dalam Pilkada serentak 2020. 

Sandiaga mengatakan dirinya tak hanya mendukung Sara, namun semua orang yang memiliki kemampuan dan ingin terjun ke dunia politik, terlepas dari latar belakang keluarga mereka.

Refly Harun Dilema di Pilkada Solo, Tolak Politik Dinasti Gibran: Penantang Justru Candidacy Buying

Simak video selengkapnya mulai menit ke-4.50:

Refly Harun Tak Permasalahkan Dinasti Politik

Di sisi lain, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun pernah memberikan komentar soal Pilkada Solo 2020, khususnya dengan majunya putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka.

Majunya Gibran diketahui mendapatkan beragam sorotan, yang disebutnya sebagai fenomena dinasti politik.

Dilansir TribunWow.com dalam tayangan Youtube Refly Harun Minggu (26/7/2020), dirinya mengaku tidak mempermasalahkan soal adanya dinasti politik di Pilkada Solo 2020.

Karena menurutnya adanya dinasti politik sah-sah saja dan tidak ada yang melarang.

Namun dikatakan Refly Harun ada pengecualiannya, yakni jika dilakukan dengan cara yang curang dan menggugurkan nilai-nilai demokrasi.

Dirinya menegaskan bahwa tentunya tidak bisa melarang kepada setiap warga negara yang ingin mencalonkan diri jika memang sudah memenuhi syarat.

Refly Harun lantas mencontohkan beberapa kecurangan dalam membentuk dinasti politik, mulai dari proses sebelum pemilihan umum maupun saat pemilihan umum.

"Yang jadi masalah adalah kalau politik dinasti tersebut dibuat dengan langkah yang curang. Yaitu kecurangan pemilu, baik di hulu maupun di hilir," ujar Refly Harun.

"Caranya adalah misal satu kalau pemilihan kepala daerah memborong semua partai politik agar tidak ada calon lain selain kerabatnya. Itu cara yang keliru, cara yang tidak demokrastis," tegasnya.

"Atau misalnya melakukan kecurangan yang jamak terjadi, mulai dari candidate buying, vote buying, mempengaruhi panitia penghitungan suara atau KPU di daerah karena mereka powerfull baik secara kekuasaan maupun ekonomi," jelasnya.

Menurutnya tidak ada alasan untuk menolak jika memang prosesnya membangun dinasti politik dilakukan dengan cara-cara yang tidak demokratis.

Hal itu tentunya akan merusak proses demokrasi yang bebas, jujur dan adil.

Namun sebaliknya, jika dilakukan dengan cara yang demokratis dan beradab maka bisa dikatakan masih bisa diterima.

Karena menurutnya hal tersebut nantinya akan ditentukan sendiri oleh masyarakat saat Pemilu.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Tags:
Pilkada Serentak 2020Prabowo SubiantoPolitik DinastiSandiaga Uno
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved