Terkini Nasional
Feri Amsari Beri DPR Nilai Merah, Komarudin Watubun: Benci tapi Rindu, Rakyat Membutuhkan
Anggota DPR Fraksi PDIP Komarudin Watubun menanggapi 'nilai merah' yang diberikan pengamat politik untuk DPR.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Anggota DPR Fraksi PDIP Komarudin Watubun menanggapi 'nilai merah' yang diberikan pengamat politik untuk DPR.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan saat diundang dalam acara Mata Najwa di kanal YouTube Najwa Shihab, Rabu (8/7/2020).
Sebelumnya Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas (Pusako Unand) Feri Amsari dan Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus memberi nilai buruk pada kinerja DPR.

• Pertanyakan Logika RUU PKS Tak Dibahas karena Sulit, Najwa Shihab: Bukankah Rakyat Menggaji DPR?
Feri Amsari memberi nilai empat, sedangkan Lucius Karus memberi nilai lima.
Komarudin kemudian menanggapi perolehan nilai tersebut pada sembilan bulan pertama DPR bertugas.
"Saya komentar pendek saja. Kami punya kelemahan, tapi suka atau tidak suka DPR dibutuhkan," ungkap Komarudin Watubun.
Ia mengibaratkan DPR dengan ungkapan 'benci tapi rindu'.
Hal itu Komarudin sampaikan mengingat DPR adalah salah satu institusi yang menyelenggarakan negara.
"Benci tapi rindu. Negara membutuhkan, rakyat membutuhkan," jelas Komarudin.
"Kalau tidak ada DPR, kegiatan formal negara juga tidak jalan," lanjutnya.
"Oleh karena itu terima kasih atas kritikan masukannya," tambahnya.
Ia kemudian membuat pengandaian lain saat membahas kritik yang terus dilontarkan kepada DPR.
"Saya mau sampaikan begini, batu yang besar bisa bocor oleh tetesan air hujan. Bukan karena derasnya air hujan, tapi karena keseringannya," jelas Komarudin.
"Silakan sering dikritik dan beri masukan, pasti kami berubah," tandasnya.
• PDIP Copot Rieke Diah Pitaloka dari Wakil Ketua Baleg DPR, Tunjuk M Nurdin sebagai Pengganti
Sebelumnya Feri Amsari menjelaskan alasannya memberikan nilai buruk kepada DPR.
"Saya empat dari skala sepuluh dengan beberapa pertimbangan," papar Feri Amsari.
"Jadi Pak Komar bilang rasional dan idealis. Bagi saya, DPR itu rasional tapi tidak idealis," jelasnya.
Ia menyinggung ada sejumlah RUU yang pembahasannya dikebut selama masa pandemi Virus Corona.
Meskipun begitu, DPR memutuskan untuk mencabut 16 RUU dari Prolegnas Prioritas 2020.
"Misalnya soal pembahasan undang-undang di kala pandemi, dikebut itu semua," kata Feri.
"Tapi lucunya, setelah rajin di masa pandemi, malah dikurangi prolegnas-nya. Harusnya ditambah karena sedang rajin-rajinnya di kala pandemi," ungkapnya.
Feri menilai hal itu dapat berpengaruh pada penilaian pada akhir masa tugas DPR.
"Ini 'kan mereka sedang membangun upaya agar nanti di ujung angka persentase kinerja legislasi meningkat," jelas Feri.
"Sedang rajin-rajinnya karena ada Minerba, Omnibus Law, MK, dan semua hal yang ditentang publik sedang dikerjakan sekarang," tambahnya.
• DPRD DKI Kritik Reklamasi Ancol, Pemprov Bakal Bangun Tempat Rekreasi dan Museum Internasional
Lihat videonya mulai menit 4:50
Sindiran Najwa Shihab tentang Kinerja DPR
Presenter Najwa Shihab menyindir kinerja DPR dalam membahas Rancangan Undang-Undang (RUU).
Hal itu ia singgung saat mendengar perdebatan tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).
Dilansir TribunWow.com, Najwa menyampaikan sindiran itu dalam tayangan Mata Najwa di kanal YouTube Najwa Shihab, Rabu (8/7/2020).
• Tak Ingin Golkar Berkhianat soal RUU HIP, Ketua PA 212 Slamet Maarif Singgung Azis Syamsuddin
Sebelumnya perdebatan terjadi antara Ketua Perhimpunan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia Euis Sunarti dengan Peneliti Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Dian Novita.
Ketua GiGa Euis Sunarti merasa pihak pengusung RUU PKS melakukan negosiasi dengan DPR dalam pembahasan.
Mendengar perdebatan itu, presenter Najwa Shihab segera menengahi dan memberikan tanggapan.
"Isu-isu seperti ini kan makanya kita perlu ada DPR," komentar Najwa Shihab.
"Inilah tugas DPR sesungguhnya untuk bisa menjembatani ini, tetapi itu tidak dilakukan," tambahnya.
Anggota DPR Fraksi PDIP Komarudin Watubun kemudian menanggapi sindiran Najwa Shihab.
Ia menyinggung dicabutnya RUU PKS dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas
"Saya menikmati dengan baik perdebatan dari tadi, termasuk mengurangi jumlah RUU Prolegnas," kata Komarudin Watubun.
Menurut Komarudin, hal itu wajar saja mengingat DPR tidak selalu memenuhi target pembahasan Prolegnas setiap tahunnya.
"Khusus untuk itu, saya mau sampaikan idealisme itu penting tapi harus realistis juga," tegas Komarudin.
Komarudin menilai sikap DPR hanya berusaha realistis.
• Terawan Kembali Tak Mau Hadir ke Mata Najwa di Tengah Ancaman Reshuffle, Najwa Shihab Berikan Pesan
Seperti diketahui, sebelumnya RUU PKS dicabut dari Prolegnas Prioritas dengan alasan terlalu sulit dibahas.
"DPR sadar betul itu, saya tahu. Dari dulu kan tidak capai target yang ditetapkan, maka sekarang menurunkan itu," paparnya.
"Jadi idealis dan realistis, kira-kira begitu," lanjut anggota Komisi II DPR ini.
Komarudin menegaskan partainya akan mendukung pembahasan RUU PKS.
"Kedua, tentang perdebatan ini saya kira PDIP sikap jelas. Dari awal kita mendukung," tegasnya.
Meskipun begitu, ia tidak menampik banyak kepentingan yang dilibatkan dalam pembahasan suatu undang-undang.
Komarudin juga tidak membantah perlu ada lobi politik dalam hal ini.
"Cuma saya mau sampaikan, DPR itu lembaga politik. Saya kira dengan pengalaman ini juga butuh lobi-lobi yang kuat," paparnya.
"Setiap komisi, setiap partai politik punya kepentingan. Semua hal penting, tapi ada hal yang menjadi prioritas dalam lembaga politik," tandas Komarudin. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)