Virus Corona
Sosiolog Duga Adat dan Agama Sebabkan Kasus Jemput Paksa Jenazah Covid-19: Ada Pergulatan
Pakar Sosiolog UI Imam Prasodjo menduga kebiasaan adat dan keagamaan tentang memperlakukan jenazah jadi faktor terjadinya jemput paksa jenazah Covid.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Kasus penjemputan jenazah pasien Covid-19 berulang kali terus terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Pakar Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo menduga kebiasaan adat dan agama yang telah mengakar di masyarakat mendorong warga untuk menjemput paksa jenazah Covid-19.
Ia mengatakan masyarakat di lapangan lebih percaya terhadap adat dan kebiasaan ketimbang fakta ilmiah bahwa Covid-19 berbahaya bagi kesehatan.

• Teriakan Dzikir Warnai Penjemputan Paksa Jenazah PDP Covid-19 oleh Ratusan Warga di Manado
Dikutip dari acara KOMPAS SIANG, Rabu (10/6/2020), awalnya Imam menjelaskan di lapangan kini terjadi pertentangan antara public knowledge (pengetahuan masyarakat) dan scientific knowledge (pengetahuan ilmiah).
"Pertama adalah public knowledge, pengetahuan yang dipahami atau pemahaman yang dipahami oleh masyarakat dari manapun itu sumbernya," kata Imam.
Imam mengatakan kebiasaan dalam adat maupun agama dalam memperlakukan jenazah adalah satu di antara beberapa faktor di balik kasus penjemputan jenazah secara paksa.
"Dan juga mungkin ada kendala-kendala karena protokol ataupun adat kebiasaan, keagamaan misalnya bagiamana memperlakukan jenazah," papar Imam.
"Di satu sisi ada scientific knowledge, pengetahuan berdasarkan ilmu pengetahuan, sains."
"Kaitannya dengan Covid ini yang tentu punya daya tular, punya tingkat bahaya yang berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain," sambungnya.
Imam melihat masyarakat lebih condong percaya dan mengaplikasikan public knowledge dibandingkan percaya terhadap fakta ilmiah.
"Ini ada gap, ada kesenjangan, sehingga terjadilah itu pergulatan yang satu tidak percaya atau bahkan menganggap kalau sudah dinyatakan ini ada Covidnya, itu akan merepotkan sekali bagi keluarga," urai Imam.
"Pada saat yang sama bisa jadi mereka tidak memahami persis tentang dampak seandainya pasien yang terinfeksi Covid ini dimakamkan secara biasa."
Imam mengatakan kesenjangan antara public knowledge dengan scientific knowledge yang terjadi di masyarakat harus segera diatasi.
Di samping kesenjangan tersebut, Imam mengatakan sosialisasi yang dilakukan oleh rumah sakit diduga belum efektif untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya Covid-19.
"Public trust (kepercayaan publik) juga bisa jadi bagian dari masalah karena rumah sakit bisa jadi belum efektif untuk menjelaskan kepada pasiennya," ujar Imam.
"Oleh karena itu materi tentang pembelajaran atau pemahaman kepada pasien itu perlu dibuat."