Breaking News:

Virus Corona

Kasus Positif Capai 2.803 di Surabaya, Khofifah Minta Syukuri 292 Pasien Sembuh: Siap-siap Peta Baru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumumkan jumlah pasien terinfeksi Virus Corona (Covid-19) yang sembuh di wilayahnya.

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Capture infocovid-19.jatimprov.go.id
Peta status Covid-19 di Surabaya dan sekitarnya, update Rabu (3/6/2020) malam. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumumkan jumlah pasien terinfeksi Virus Corona (Covid-19) yang sembuh di wilayahnya. 

TRIBUNWOW.COM - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumumkan jumlah pasien terinfeksi Virus Corona (Covid-19) yang sembuh di wilayahnya.

Dilansir TribunWow.com, ia menyebutkan 292 pasien dinyatakan sembuh pada Rabu (3/6/2020).

Dengan demikian total jumlah pasien yang telah sembuh adalah 1.091.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan jumlah kesembuhan baru sebanyak 292 pasien, dalam Prime Talk, Rabu (3/6/2020).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan jumlah kesembuhan baru sebanyak 292 pasien, dalam Prime Talk, Rabu (3/6/2020). (Capture YouTube Metro TV News)

Khawatir Stigma, Pakar Epidemiologi Ungkap Alasan Banyak Orang Enggan Tes di Jatim: Kalau Positif

Hal itu ia sampaikan seusai mengumumkan jumlah pasien positif baru di Surabaya, Jawa Timur yang totalnya mencapai 2.803.

"Boleh kami mensyukuri nikmat hari ini, bahwa kerja keras para tenaga kesehatan," kata Khofifah Indar Parawansa, dalam tayangan Prime Talk di Metro TV, Rabu (3/6/2020).

Menurut Khofifah, fakta tersebut harus disyukuri seluruh masyarakat.

"Hari ini ada kesembuhan yang harus disyukuri kita semua, 292 pasien Covid-19 hari ini sembuh di Jawa Timur," paparnya.

"Jika tadi sore yang diumukan ada 100 yang sembuh, itu adalah kesembuhan yang kemarin," tambah Khofifah.

Ia menyebutkan data terus berubah sesuai dari laporan terkini tiap rumah sakit.

Menurut Khofifah, jumlah pasien sembuh baru terus bertambah.

"Karena memang terus bergerak, laporan-laporan dari rumah sakit," jelas Khofifah.

"Di 99 rumah sakit rujukan, kami sudah kirim semuanya manual dalam bentuk handphone. Jadi reportasenya terus di-update," lanjut dia.

"Kalau hari ini, alhamdulillah 292 yang sembuh," paparnya.

Surabaya Disebut Jadi Zona Hitam Corona, Khofifah Bantah Merah Pekat: Tidak Pernah Ada dalam Peta

Ia berharap pertumbuhan angka pasien positif akan memberikan harapan baru terhadap penanganan Covid-19 di Jawa Timur.

Khofifah menjelaskan pasien dinyatakan sembuh setelah dua kali menjalani PCR tes dan dinyatakan negatif.

"Artinya bahwa mudah-mudahan dari seluruh kapasitas bed yang ada, tenaga medis yang semangatnya luar biasa, ini sudah memberikan hasil yang patut kita syukuri bersama," jelasnya.

"Artinya sudah dua kali PCR tes, dinyatakan negatif," tambah Khofifah.

Khofifah menyebutkan langkah berikutnya yang akan dilakukan Pemprov Jatim adalah mengawasi operasional rumah sakit.

"Berikutnya kami ingin memaksimalkan layanan rumah sakit darurat atau rumah sakit lapangan," ungkapnya.

Menurut Khofifah, banyaknya tes yang dilakukan pemerintah setempat membuat kasus baru dapat cepat terlacak.

Maka dari itu, angka kasus di Jawa Timur tampak seperti melonjak tinggi.

Seiring dengan banyaknya pasien sembuh, Khofifah memprediksi akan ada pasien baru pula.

"Dari masifnya rapid test dan PCR tes yang dilakukan berbagai daerah, terutama dari Pemkot Surabaya, dari awal memang sudah harus siap-siap menerima peta baru," ungkap Khofifah.

"Kemungkinan akan ada penambahan peta secara signifikan karena masifnya tes yang dilakukan," tambahnya.

Kasus Corona Jatim Capai 4.922, Pakar Epidemiologi Sebut Bukan Kondisi Nyata: Jauh Lebih Banyak

LIhat videonya mulai dari awal:

Pakar Epidemiologi Ungkap Alasan Banyak Orang Enggan Tes di Jatim

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) Atik Choirul Hidayah menjelaskan alasan banyaknya orang yang enggan mengikuti tes Covid-19.

Hal itu ia sampaikan menanggapi masih tingginya kasus positif Virus Corona (Covid-19) di Jawa Timur.

Atik menilai banyak orang yang belum paham seluk-beluk Virus Corona dan bagaimana penyebarannya.

 Kasus Corona Jatim Capai 4.922, Pakar Epidemiologi Sebut Bukan Kondisi Nyata: Jauh Lebih Banyak

Dilansir TribunWow.com, awalnya Atik menyebutkan faktor penyebab kasus positif Covid-19 di Jawa Timur masih tumbuh.

"Di satu sisi terkait tracing dan testing, di sisi yang lain terkait bagaimana perilaku dari kita sendiri," kata Atik Choirul Hidayah, dalam tayangan Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne, Selasa (2/6/2020).

Ia lalu menjelaskan bagaimana Virus Corona menular ke orang lain, yakni melalui cairan yang keluar dari organ pernapasan dan mulut.

"Kita tahu bagaimana Covid ini penyebarannya melalui droplet. Droplet ini akan mengikuti setiap pergerakan kita," jelas Atik.

"Kalau kita berbicara, kita bersin, kita batuk, maka akan ada droplet yang keluar dari kita," lanjut dia.

"Ini yang berpotensi menimbulkan penularan," papar Atik.

Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain.

Seperti diketahui, pemerintah juga mengeluarkan imbauan agar menunda kegiatan yang melibatkan massa.

"Oleh karena itu, imbauan terhadap aktivitas yang sesedikit mungkin kita kontak dengan orang lain itu harus kita perhatikan," tegas Atik.

Ia lalu menyinggung alasan banyak orang enggan mengikuti tes Covid-19.

Menurut Atik, masih banyak orang belum paham pentingnya mengikuti tes tersebut.

Pakar Epidemiologi FKM Unair Atik Choirul Hidajah membahas pertumbuhan kasus di Surabaya, Jawa Timur, dalam Apa Kabar Indonesia Pagi, Selasa (2/6/2020).
Pakar Epidemiologi FKM Unair Atik Choirul Hidajah membahas pertumbuhan kasus di Surabaya, Jawa Timur, dalam Apa Kabar Indonesia Pagi, Selasa (2/6/2020). (Capture YouTube Apa Kabar Indonesia TvOne)

 Wanita di Cianjur Tolak Lakukan Rapid Test dan Coba Lobi Petugas: Saya Sehat Kok, Damai Aja Pak

"Nah, selain itu yang terkait dengan penolakan untuk tracing dan testing, terjadi karena banyak masyarakat yang belum paham," kata Atik.

Selain itu, masyarakat masih belum mengerti alasan harus dilakukan tracing dan testing.

Atik menduga hal itu muncul karena stigma buruk yang dilekatkan pada penderita positif Virus Corona.

"Ini bisa terjadi akibat dari masih banyak stigma, kalau dia positif, nanti akan seperti apa," ungkap Atik.

Ia menegaskan masyarakat harus mendapat edukasi tentang dampak stigma buruk semacam ini.

"Penolakan-penolakan bisa terjadi karena hal-hal seperti itu," jelasnya.

Atik membenarkan banyak orang sengaja menghindar ikut tes Covid-19.

"Takut mungkin ini tindakannya invasif dan sebagainya," jelas Atik.

Ia menyebutkan penting adanya sosialisasi terkait rapid test atau swab yang bertujuan melacak penyebaran virus.

"Jadi harus disampaikan, misalnya tes itu gunanya untuk apa, caranya bagaimana," papar Atik.

"Kalau orang tahu, bisa membayangkan," tambahnya. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Virus CoronaSurabayaKhofifah Indar ParawansaJawa Timur
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved