Virus Corona

Anies Baswedan Blak-blakan soal Kemenkes yang Tak Transparan terkait Data Pasien Covid-19

Kementerian Kesehatan disebut oleh Gubernur DKI Anies Baswedan tak transparan dari awal mengenai data pasien Covid-19.

Youtube/PEMPROV DKI JAKARTA
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam konferensi pers membahas PSBB, Rabu (8/4/2020). Anies Baswedan membeberkan Kemenkes dari awal tidak transparan soal data pasien Covid-19 di Indonesia. 

TRIBUNWOW.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku pernah meminta pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) unuk transparan mengenai data pasien positif Covid-19.

Hal ini ia sampaikan pada media Australia The Sydney Morning Herald dan The Age seperti dilansir oleh Kompas.com, Rabu (13/5/2020).

Anies mengatakan transparansi akan membuat masyarakat lebih waspada terhadap penyebaran Covid-19.

Anies Sayangkan Mengapa Hanya Bansos 1,6 Persen Tak Tepat Sasaran Jadi Sorotan: Seakan-akan Semua

Sanksi PSBB DKI Jakarta Mulai Diterapkan Hari Ini, Pemprov Siapkan Aturan Denda hingga Rp 50 Juta

Namun, Kemenkes disebut oleh Anies tak mau membeberkan data pasien positif Covid-19 karena khawatir membuat panik masyarakat.

Ia lalu mengungkapkan, pihaknya sudah mendeteksi keberadaan Covid-19 sejak Januari hingga Februari 2020 di Jakarta.

Akan tetapi hasil yang disampaikan oleh Kemenkes berbanding terbalik denga laporan pemantauan Pemprov DKI.

Kala itu, Kemenkes mengumumkan belum ada kasus positif Covid-19 di ibu kota.

"Menurut kami, bersikap transparan dan menginformasikan (kepada masyarakat) mengenai apa yang harus dilakukan adalah cara memberikan rasa aman," papar Anies. 

"Namun, Kementerian Kesehatan mempunyai pandangan berbeda, (Kemenkes menilai) transparan akan membuat (masyarakat) panik," kata Anies dalam artikel The Sydney Morning Herald yang terbit pada 7 Mei lalu.

Anies Baswedan Tuai Kritikan, Geisz Chalifah: Apapun Masalah Pemerintah, Pengalihannya pada DKI

Anies Sayangkan Mengapa Hanya Bansos 1,6 Persen Tak Tepat Sasaran Jadi Sorotan: Seakan-akan Semua

Anies juga mengatakan angka kematian Covid-19 di Jakarta lebih tinggi dibandingkan angka kematian nasional akibat Covid-19 yang dirilis Pemerintah Pusat selama ini. 

Hal ini mengacu pada data pemakaman jenazah dengan protokol pemulasaran jasad pasien Covid-19 yang dimiliki Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. 

Tercatat 4.300 pemakaman jenazah pada paruh kedua Maret 2020 dan 4.590 pemakaman jenazah pada April 2020. 

Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan 1.500 kasus pemakaman jenazah dibanding bulan-bulan sebelum pandemi Covid-19 yang rata-rata pemakaman jenazahnya hanya sekitar 3.000 setiap bulan. 

"Angka kematian itu menunjukkan dugaan tingginya kasus Covid-19. Jika kita sebut tingkat kematian akibat Covid-19 sebesar 5 sampai 10 persen, maka kemungkinan, ada 15.000 sampai 30.000 kasus positif Covid-19 di Jakarta.'

"Angka kematian dan kasus positif Covid-19 diperkirakan jauh lebih tinggi dibanding angka yang dirilis Kemenkes," ujar Anies. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Anies Ungkap Kebingungan soal Data Covid-19: Ingin Transparan, tapi Kemenkes Tak Mau

Ikuti kami di
Penulis: Fransisca Krisdianutami Mawaski
Editor: Lailatun Niqmah
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved