Virus Corona
Donald Trump Diprotes seusai Janji Sediakan Ventilator ke Jokowi, Apa yang Jadi Imbal Balik bagi AS?
Janji Presiden Donald Trump yang akan menyediakan ventilator untuk Indonesia menuai protes warganya di linimasa.
Editor: Lailatun Niqmah
Meski tidak menyebut angka detil kebutuhan APD bagi para tenaga medis, IDI menggambarkan kebutuhan APD sebagai berikut: jumlah dokter ada 185.000, perawat 1,2 juta, dan ada lagi tenaga kesehatan lainnya. APD hanya sekali pakai, dan dalam sehari ada tiga shift.
Imbal dagang 'rawan' permainan
Di sisi lain, penggunaan metode imbal dagang dinilai rawan menimbulkan kecurangan, menurut anggota tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Pandu Riono.
"Imbal dagang itu risikonya dua kemungkinannya, yaitu harga yang bisa dipermainkan, dan kualitas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak tahu bagaimana quality control-nya," kata Pandu kepada BBC News Indonesia.
Menurut Pandu, proses persetujuan nilai imbal dagang dilakukan secara tertutup dan sering kali merugikan satu pihak.
"Imbal dagang itu tidak terbuka. Nanti harganya dipatok, misal satu ventilator untuk 1.000 APD, apakah itu seimbang? Kenapa tidak, APD dijual dan ventilator dibeli secara terpisah. Jadi bisa jual dengan harga terbaik, dan beli dengan harga terbaik," katanya.
Kemudian, imbal dagang juga tidak memiliki jaminan bahwa ventilator yang dikirim memiliki kualitas terbaik.
"Kita tidak bisa menolak barang yang dikirim, jangan sampai ternyata ventilator-nya tidak berkualitas dan tidak terpakai," kata ahli epidemilogi dan biostatistik dari UI itu.
Pandu pun meminta pemerintah untuk fokus pada pemenuhan kebutuhan APD dalam negeri baik dalam jumlah maupun kualitas. Jika berlebih maka dapat dijual secara terbuka ke negara lain.
"Lalu untuk ventilator, kenapa harus impor? Kenapa tidak produksi sendiri? Banyak pabrik di Indonesia yang punya kapasitas, dan desainnya juga sudap open source, bisa ditiru, tidak ada hak patennya lagi, tinggal copy saja. Ini malahan impor," katanya.
Apa kata Kementerian Perdagangan?
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan Olvy Andrianita menjelaskan, antara Indonesia dengan negara mitra tentu harus saling membantu dalam situasi sulit pandemi COVID-19 seperti saat ini, khususnya untuk pengadaan alat kesehatan dan alat pelindung diri (APD).
Banyak industri di Indonesia yang memproduksi alat kesehatan, saat ini juga membutuhkan bahan baku dari luar negeri.
"Untuk itu, Bapak Menteri Perdagangan telah melakukan strategi penguatan pendekatan dengan negara-negara mitra supaya tetap dapat mengimpor bahan baku alat kesehatan untuk kebutuhan industri di dalam negeri kita. Hal ini karena situasi sulit seperti saat ini banyak negara yang terganggu ekspornya dan lebih fokus pada penyelesaian COVID-19," kata Olvy kepada BBC News Indonesia.
Olvy menambahkan, kondisi dunia saat ini menjadi sulit akibat Covid-19. Indonesia mengalami kesulitan mengekspor barang, karena tiap negara tidak berorientasi membeli barang dari luar.