Virus Corona
Alasan Orang Tetap Nekat Mudik meski Dilarang, Psikiater: Seperti Adiksi, Ada Satu Kecemasan
dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarkat masih nekat melakukan mudik meski telah di larang.
Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Dokter spesialis psikiatri, dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarakat masih nekat melakukan mudik meski telah dilarang.
Padahal hal tersebut diberlakukan demi mencegah penularan Virus Corona agar tak semakin meluas.
Dilansir TribunWow.com, Kementrian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik, dalam rangka pencegahan penularan Covid-19.
• Kunjungan Keluarga di Tengah Corona yang Berakhir Memilukan, Kehilangan Ayah dan Suami dalam 2 Hari
Larangan mudik utamanya diberlakukan secara ketat untuk wilayah-wilayah yang dinyatakan sebagai zona merah atau telah melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai pada, Jumat (24/4/2020).
Meski begitu, terpantau banyak masyarakat yang nekat untuk melakukan mudik.
Bahkan, banyak di antaranya menyiasati untuk melakukan mudik lebih awal sebelum pelarangan tersebut diberlakukan.
Menurut dr. Danardi, hal tersebut merupakan sifat manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk budaya yang memiliki kecenderungan untuk berkumpul.
Definisi berkumpul dalam konteks ini adalah merujuk pada kebiasaan seperti melakukan salat tarawih berjamaah, buka bersama hingga tradisi untuk pulang kampung jelang Lebaran atau mudik.
"Jadi manusia itu kan mahluk sosial, harus berkumpul," ucap dr. Danardi dikutip dari kanal Talk Show tvOne, Jumat (24/4/2020).
"Dan manusia itu mahluk budaya dimana sudah bertahun-tahun mempunyai suatu pola, untuk berkumpul, juga mungkin secara religi bahwa mempunyai kebiasaan untuk salat Tarawih, buka bersama, terpasuk nanti pulang ke kangpung ketika lebaran," lanjutnya.
• Pilih Mundur dari Bursa Pilkada Solo di Tengah Pandemi Corona, Achmad Purnomo: Saya Tak sampai Hati
• Penghasilan Merosot karena Dampak Corona, Perantau Harus Rela Tinggal di Bangunan Tak Layak
Hal tersebut merupakan budaya yang telah terpatri dan memang sulit untuk diubah.
Padahal, dalam kondisi pandemi seperti ini sangat ditekankan untuk menghindari kerumunan dan menjaga jarak.
Oleh karenanya, peran anggota masyarakat lain yang lebih paham diharapkan untuk bisa menjadi contoh bagi lainnya.
"Itu budaya yang sudah terpatri begitu tidaklah mudah untuk diubah,"
"Mencegah Corona ini salah satunya memang harus distancing, jadi berharapnya teman-teman yang paham tentang hal ini bisa memberikan contoh atau teladan."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/dr-danardi-sosrosumiharjo-sp-kjk.jpg)