Breaking News:

Virus Corona

Alasan Orang Tetap Nekat Mudik meski Dilarang, Psikiater: Seperti Adiksi, Ada Satu Kecemasan

dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarkat masih nekat melakukan mudik meski telah di larang.

Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Claudia Noventa
Capture YouTube Talk Show TVONE
dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarkat masih nekat melakukan mudik meski telah di larang. 

TRIBUNWOW.COM - Dokter spesialis psikiatri, dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarakat masih nekat melakukan mudik meski telah dilarang.

Padahal hal tersebut diberlakukan demi mencegah penularan Virus Corona agar tak semakin meluas.

Dilansir TribunWow.com, Kementrian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik, dalam rangka pencegahan penularan Covid-19.

dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarkat masih nekat melakukan mudik meski telah di larang.
dr. Danardi Sosrosumiharjo Sp. KJ(K), menyampaikan alasan logis masyarkat masih nekat melakukan mudik meski telah di larang. (Capture YouTube Talk Show TVONE)

Kunjungan Keluarga di Tengah Corona yang Berakhir Memilukan, Kehilangan Ayah dan Suami dalam 2 Hari

Larangan mudik utamanya diberlakukan secara ketat untuk wilayah-wilayah yang dinyatakan sebagai zona merah atau telah melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai pada, Jumat (24/4/2020).

Meski begitu, terpantau banyak masyarakat yang nekat untuk melakukan mudik.

Bahkan, banyak di antaranya menyiasati untuk melakukan mudik lebih awal sebelum pelarangan tersebut diberlakukan.

Menurut dr. Danardi, hal tersebut merupakan sifat manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk budaya yang memiliki kecenderungan untuk berkumpul.

Definisi berkumpul dalam konteks ini adalah merujuk pada kebiasaan seperti melakukan salat tarawih berjamaah, buka bersama hingga tradisi untuk pulang kampung jelang Lebaran atau mudik.

"Jadi manusia itu kan mahluk sosial, harus berkumpul," ucap dr. Danardi dikutip dari kanal Talk Show tvOne, Jumat (24/4/2020).

"Dan manusia itu mahluk budaya dimana sudah bertahun-tahun mempunyai suatu pola, untuk berkumpul, juga mungkin secara religi bahwa mempunyai kebiasaan untuk salat Tarawih, buka bersama, terpasuk nanti pulang ke kangpung ketika lebaran," lanjutnya.

Pilih Mundur dari Bursa Pilkada Solo di Tengah Pandemi Corona, Achmad Purnomo: Saya Tak sampai Hati

Penghasilan Merosot karena Dampak Corona, Perantau Harus Rela Tinggal di Bangunan Tak Layak

Hal tersebut merupakan budaya yang telah terpatri dan memang sulit untuk diubah.

Padahal, dalam kondisi pandemi seperti ini sangat ditekankan untuk menghindari kerumunan dan menjaga jarak.

Oleh karenanya, peran anggota masyarakat lain yang lebih paham diharapkan untuk bisa menjadi contoh bagi lainnya.

"Itu budaya yang sudah terpatri begitu tidaklah mudah untuk diubah,"

"Mencegah Corona ini salah satunya memang harus distancing, jadi berharapnya teman-teman yang paham tentang hal ini bisa memberikan contoh atau teladan."

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/3
Tags:
Virus CoronaCovid-19PsikiaterMudik
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved