Breaking News:

Virus Corona

Negara yang Dipimpin oleh Perempuan Dinilai Punya Respons Lebih Baik soal Wabah Virus Corona

Selandia Baru, Jerman, Taiwan, dan Norwegia punya dua kesamaan. Di keempat negara ini angka kematian akibat Covid-19 relatif rendah.

Editor: Ananda Putri Octaviani
BBC Indonesia
Para pemimpin perempuan dunia (dari kiri atas ke kanan bawah: PM Selandia Baru Jacinda Ardern, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, PM Norwegia Erna Solberg, Kanselir Jerman Angela Merkel, PM Islandia Katrin Jakobsdottir). 

Guna menghentikan penyebaran Covid-19, para pemimpin harus membuat keputusan-keputusan sulit, seperti menghentikan perputaran roda ekonomi pada tahap awal pandemi.

Pilihan-pilihan tersebut mengandung biaya politik tinggi dalam jangka pendek, yang "berkebalikan dengan keinginan para pemimpin populis", kata Prof Campbell.

Di sisi lain, para pemimpin perempuan justru mampu memenangi opini publik dengan berbicara secara terbuka dan transparan mengenai tantangan yang dihadapi negara mereka.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, misalnya, dengan cepat mengakui Covid-19 adalah ancaman yang "sangat serius".

Angela Merkel
Angela Merkel (wonderslist.com)

Pemerintah Jerman pimpinan Merkel telah membentuk skema pengujian, pelacakan, dan pengisolasian terbesar di Eropa. Lebih dari 4.600 orang meninggal dunia akibat Covid-19 di Jerman, negara berpenduduk 83 juta jiwa.

Di Norwegia dan Denmark, rangkaian pendekatan yang ditempuh perdana menteri perempuan mereka membuat kedua negara itu lebih mau ketimbang pemimpin pria yang mengedepankan sikap 'macho'.

Baik pemimpin Norwegia, Erna Solberg, serta pemimpin Denmark, Mette Frederiksen, menggelar konferensi pers khusus untuk anak-anak mengenai penanganan wabah Virus Corona. Orang dewasa dilarang masuk dalam konferensi pers tersebut.

PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, juga berupaya menenangkan kekhawatiran anak-anak mengenai liburan Paskah, yang dirayakan umat Kristen bulan ini.

Kritik Belva Devara, Adi Prayitno Prediksi Kartu Pra Kerja Bakal Berakhir Mubazir: Gara-gara Corona

Ardern mengatakan kepada mereka bahwa Kelinci Paskah adalah "pekerja penting" sehingga diperbolehkan mengantarkan telur cokelat langsung ke rumah mereka.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern (Instagram.com/@jacindaardern)

Prof. Campbell mengatakan: "Berbicara mengenai Kelinci Paskah mungkin merupakan hal yang mengada-ada bagi pemimpin sebuah negara di masa lalu. Namun, keberadaan perempuan di dunia politik membuat kita lebih berpikir bagaimana politik mempengaruhi anak-anak."

Hal-hal itu amat mungkin dianggap "urusan privat" di masa lalu, sebagaimana halnya dengan kekerasan rumah tangga dan pengasuhan anak.

Dengan menyampaikan kerisauan anak-anak secara langsung, para pemimpin politik mengakui bahwa pandemi Corona mempengaruhi kesehatan mental setiap kelompok usia, kata Campbell.

'Keputusan-keputusan yang lebih baik'

Sebanyak 70% tenaga kesehatan di dunia adalah perempuan, namun pada 2018 hanya 10 dari 153 kepala negara yang perempuan, menurut Interparliamentary Union.

Hanya seperempat dari keseluruhan anggota parlemen di dunia yang perempuan.

Dr Gupta, yang juga mengepalai dewan penasihat di WomenLift Health—program Yayasan Bill and Melinda Gates yang bertujuan meningkatkan jumlah pemimpin perempuan di sektor kesehatan—menyerukan lebih banyak perempuan ditempatkan sebagai pemimpin.

Menurutnya, hal itu akan meningkatkan kualitas pembuatan kebijakan.

"Akan ada keputusan-keputusan yang ada relevansinya untuk semua segmen masyarakat, bukan hanya untuk beberapa.

"Karena sebagai perempuan, mereka (para pemimpin) telah mengalami hidup dalam peran dan tanggung jawab yang dibagi berdasarkan gender di masyarakat. Sehingga, perspektif dan keputusan mereka amat mungkin dipengaruhi pengalaman itu."

Dr Gupta mewanti-wanti dampak sosial dan ekonomi Covid-19 terhadap pria dan perempuan; kekerasan domestik meningkat, risiko kemiskinan meningkat, serta melebarnya jurang upah antara pria dan perempuan.

"Kita malah mundur," ujarnya. "Kecuali respons terhadap pandemi memperhitungkan hal-hal tersebut, masalah yang ada akan semakin parah." (BBC Indonesia)

Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul Virus Corona: Mengapa negara yang dipimpin perempuan kerap merespons wabah Covid-19 lebih baik?

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
Tags:
iKONB.I iKONKorea SelatanAsian Games 2018
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved