Virus Corona
Cara 'Crazy Rich Asians' Melindungi Diri dari Virus Corona, Langsung Beli Pulau Pribadi
Sementara saat banyak orang mulai mengarantina diri di rumah masing-masing, crazy rich Asians banyak yang memilih membeli pulau pribadi.
Editor: Claudia Noventa
• Baru akan Dipindah ke Ruang Biasa seusai Dinyatakan Sembuh, Pasien Covied-19 di Kalimantan Meninggal
Dilansir dari SCMP, Selasa (31/3/2020), sejumlah agen penjualan pulau privat mengaku dibanjiri pertanyaan dari para orang kaya Asia yang mencari pulau pribadi untuk bisa dibeli dan dipakai sebagai tempat berlindung sementara dari wabah Virus Corona.
• Singgung Kerusuhan, Karni Ilyas Kritik Larangan Mudik karena Corona: Enggak Bisa Dibiarkan Tak Makan
Jika wabah sudah mereda, bagi para orang superkaya tersebut, pulau itu bisa dijadikan investasi jangka panjang.
Beberapa pulau pribadi dijual seharga mencapai 100 juta dollar AS atau Rp 1,63 triliun (kurs Rp 16.360).
Edward de Mallet Morgan dari agen tim penjualan pulau-pulau pribadi Knight Frank's International Super-Prime yang berbasis di London mengungkapkan, permintaan akan pulau privat melonjak sejak meluasnya Covid-19.
"Selain itu, dari segi investasi keuangan, pulau pribadi tentu saja akan menjadi investasi dalam kesehatan dan kesejahteraan bagi keluarga. Bagi sebagian pembeli, ini adalah penanda kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan keluarga," kata dia lagi.
• Bahas Pemulangan WNI Berbagai Negara, Jokowi: Terutama dari Malaysia Perlu Betul-betul Dicermati
Karena kekhawatiran akan Virus Corona, banyak pembeli mencari pulau-pulau yang bisa dimiliki di berbagai belahan dunia, termasuk beberapa pulau di Benua Amerika yang kini menjadi favorit incaran orang kaya Asia.
"Sudah ada peningkatan minat terhadap pulau-pulau bebas dalam beberapa bulan terakhir, terutama di Karibia dan Amerika Tengah," ujar CEO Private Island Inc, Chris Krolow.
Private Island Inc merupakan perusahaan properti yang berbasis di Ontario dan menjadi pemilik dari Gladden Private Island, sebuah resor besar di Atol Barrier, Belize, Laut Karibia, yang disewakan seharga 3.695 dollar AS per malam.
"Pembeli dari Asia adalah investor yang hati-hati. Mereka mencari tempat persembunyian untuk bisa digunakan sendiri dan juga di suatu tempat yang bisa mendatangkan uang di masa depan. Terlepas apakah nantinya mereka akan mengembangkannya atau menjualnya kembali," kata Krolow.
Perusahaan milik Krolow mencantumkan hampir 700 properti yang bisa dijual, mulai dari pulau seluas 2,5 hektar di Nova Scotia yang dihargai 59.000 dollar AS, hingga pulau dengan luas 9 hektar di Kepulauan Solomon yang dibanderol 25 juta dollar AS.
Perubahan iklim menjadi masalah risiko bagi para calon pemilik pulau pribadi. Sebab, pemanasan global menjadi ancaman bagi semua properti yang berada di pesisir.
Calon pembeli biasanya akan mempertimbangkan kemudahan akses dengan memperhitungkan jarak dari daratan dan cuaca.
Risiko-risiko ini yang mendorong para crazy rich Asian lebih senang membeli pulau pribadi yang sudah dikembangkan Krolow.
Selain itu, menurut Farhad Vladi, pemilik Vladi Private Island dari Hamburg, Jerman, masalah imigrasi juga menjadi pertimbangn lain.
• Kabar Duka, Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Bob Hasan Meninggal Dunia
Banyak pelanggan Vladi berasal dari Asia yang akhirnya membeli pulau privat di Selandia Baru, Karibia, Skotlandia, dan Maladewa. Namun, dari sekian negara-negara itu, Panama menjadi favorit orang kaya China karena kemudahan persyaratan.
"Walaupun pulau-pulau terisolasi dan relatif aman, mereka jarang sepenuhnya mandiri. Jadi pemilik pulau harus ingat bahwa mereka juga harus berhubungan dengan dunia luar dari waktu ke waktu," terang Vladi.
Pulau-pulau yang dijual di situs Vladi banyak berada di Round Island, Kanada, yang harganya sekitar 55.000 dollar AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/pulau-virgin_20170207_154338.jpg)