Virus Corona
WHO Ungkap Virus Corona Dapat Bertahan Hidup di Udara, Ahli Biologi Professor David: Bisa Melayang
World Health Organization (WHO) baru saja mengungkap fakta baru bahwa Virus Corona bisa bertahan hidup di udara.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Tiffany Marantika Dewi
"Makin banyak jumlah virus yang terhirup maka tentunya penyakit lebih banyak, artinya lebih banyak virus yang masuk," jelas dia.
Selain itu, adanya kontak pada barang-barang yang sudah tertempel Virus Corona lalu tidak cuci tangan dan kemdian tangan menempel pada wajah juga menyebabkan adanya penularan.
"Dan juga kontak yang lain, kalau kita memegang sesuatu lalu tidak sadar memegang bagian wajah kita yang mengandung mukosa itu juga bisa menyebabkan penularan," kata dia.
Meski demikian, menurutnya penularan karena dekat dengan penderita Virus Corona hingga terkena cairan dropletnya masih menjadi faktor terbesar penularan Covid-19.
"Tapi lebih intens kalau melalui udara ataupun partikel-partikel yang terhirup," ucapnya.
WHO Ungkap Virus Corona Bisa Bertahan di Udara
Studi menunjukkan bahwa virus corona mampu bertahan hidup di udara (survive in airborne) dalam beberapa kondisi.
WHO pun sedang mempertimbangkan tindakan pencegahan melalui udara untuk staf medis yang bertugas.
Sementara itu ahli penyakit menular Tolbert Nyenswah, Profesor di Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health, mengatakan ada 5 strategi yang dipakai banyak negara untuk melawan virus corona.
Negara-negara ini tidak hanya tergantung dari lokasi geografis atau jumlah penduduk (sekalipun itu memainkan faktor besar dan bisa sangat berpengaruh), tetapi lebih banyak dari kebijakan yang inovatif, kesiapan dan respons yang cepat.
Hingga Minggu (22/3/2020) telah terjadi 307.720 kasus virus corona di seluruh dunia, menurut data dari Worldometers.
13.054 korban meninggal dunia, sedangkan 95.797 pasien berhasil sembuh.
Virus corona bisa bertahan di udara Ketika seseorang melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol seperti dalam fasilitas perawatan medis, akan terjadi kemungkinan aerosolize dalam partikel-partikel ini mengindikasikan virus-virus dapat tinggal di udara sedikit lebih lama.
Pendapat itu disampaikan oleh Dr Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit baru dan zoonosis, Virus corona dapat melayang di udara, tetap menggantung di udara tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti panas dan lembab. (TribunWow.com/Mariah Gipty, Kompas.com/Aditya Jaya)