Kabinet Jokowi
Cara Luhut Tanggapi Investor yang Tertarik ke Indonesia: Kalau Anda Bicara-bicara Saja Capek Saya
Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan pengalamannya berdiskusi dengan seorang konglomerat asal Australia yang ingin berinvestasi di Indonesia
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan cerita saat dirinya ditemui oleh investor yang ingin investasi di Indonesia.
Luhut mengatakan sebagai menteri dirinya tidak suka kalau berbicara investor hanya sebatas bicara tanpa adanya langkah nyata.
Dikutip TribunWow.com dari kanal YouTube Najwa Shihab, Kamis (30/1/2020), mulanya ia menceritakan kejadian tersebut terjadi saat dirinya menghadiri acara internasional di Davos, Swiss.
• Mahfud MD Ngaku Didatangi Orang untuk Belokkan Kasus Jiwasraya, Najwa Shihab: Siapa yang Berani?
Acara tersebut merupakan sebuah pertemuan rutin dari forum perekonomian dunia yang dikenal dengan nama World Economic Forum (WEF).
Saat menghadiri kegiatan tersebut, Luhuht mengatakan dirinya bertemu dengan seorang konglomerat asal Australia yang ingin berinvestasi di Indonesia.
"Saya kemarin di Davos, ada satu orang kaya Australia namanya Andrew Forest," kata Luhut.
Luhut mengatakan kala itu dirinya dijadwalkan untuk bertemu dengan konglomerat asal negara kangguru itu untuk membicarakan investasi.
Andrew disebut Luhut memiliki aset yang cukup besar di Google, sebuah perusahaan multi nasional Amerika yang bergerak dalam bidang jasa dan produk internet.
Luhut mengatakan aset Andrew di Google mencapai angka 37 milliar dollar Amerika Serikat.
Setelah bertemu Andrew, Luhut segera menanyakan apa yang pria tersebut inginkan.
"Saya tanya, kamu apa (mau apa)?" kata Luhut mengutip percakapannya dengan Andrew.
Jawaban Andrew membuat Luhut kaget, karena secara tiba-tiba Andrew ingin berinvestasi di Indonesia.
"Saya mau investasi Indonesia, ini out of the blue (tiba-tiba)," ujar Luhut.
Kalau Bicara-bicara Saja Saya Capek
Lalu Luhut menanyakan lebih detil terkait investasi yang ingin dilakukan oleh Andrew.
Andrew lalu menjelaskan bahwa dirinya ingin menyalurkan listrik dari Northern Territory, Australia ke Singapura melalui Indonesia.
Tidak langsung tertarik, Luhut mengatakan apabila hanya sekadar bicara dirinya tidak tertarik.
Menteri mantan anggota militer itu mengatakan apabila serius untuk berinvestasi, ia meminta Andrew menunjukkan langkah nyata terkait keinginannya berinvestasi.
"Kamu kalau bicara-bicara saja saya capek, memang saya capek," kata Luhut.
"Jadi betul, kalau anda bicara-bicara saja capek saya bilang."
"So concrete (jadi yang jelas -red), kita mau enggak kalau pertengahan Ferbruari ke Indonesia, saya siapain semua kau invest," tambahnya.
Setelah mengatakan hal itu, Luhut mengaku dirinya tiba-tiba mendapat telepon dari Andrew.
Andrew menjelaskan bahwa ia akan segera mengunjungi Indonesia untuk menunjukkan keseriusannya berinvestasi.
"Tapi yang terjadi hari Selasa saya tiba-tiba ditelepon sama dia," kata Luhut.
Calon investor tersebut mengatakan dirinya ingin melihat langsung kondisi lapangan tempat dia akan berinvestasi.
Menanggapi hal itu, Luhut segera melakukan persiapan kedatangan Andrew.
"Saya panggil staf saya, kita rapatin, besok dia datang," jelas Luhut.
Sesampainya Andrew di Indonesia dan melihat-lihat situasi lapangan, Luhut menanyakan berapa banyak ia akan berinvestasi.
"How much you going to invest? (Berapa banyak investasi yang anda tanamkan -red)" tanya Luhut kala itu.
Total investasi Andrew berdasarkan cerita Luhut bernilai 2 milliar dollar Amerika Serikat.
Berdasarkan penjelasannya tadi, Luhut menekankan apa yang dilakukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat ini merupakan hal yang efeknya dapat terasa optimal dalam jangka panjang.
Ia mengatakan apabila pengganti Jokowi nanti memiliki visi misi yang sama, maka sangat mungkin perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 7 hingga 8 persen.
"Pak Jokowi ini selama lima tahun pertama, Beliau meletakkan landasan, sekarang kedua ini (periode kedua) saya bikin lebih cepat, sehingga nanti kalau Beliau selesai yang kedua, kalau penggantinya seperti Beliau juga Indonesia itu untuk tumbuh 7 sampai 8 persen saya kira 10 tahun, 15 tahun lagi tidak akan sulit," papar Luhut.
• Bahas Harun Masiku, Mahfud MD Tak Ada Urusan Yasonna Laoly Pecat Dirjen Imigrasi: Dikira Ikut Main
Lihat videonya di bawah ini mulai menit ke-13.50:
Haris Azhar Tanggapi 100 Hari Jokowi
Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar menyoroti kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)- Maruf Amin yang sudah memasuki hari ke 100.
Ia menilai tak ada perkembangan berarti dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh Jokowi.
Menurutnya, banyak kemerosotan yang terjadi dalam hampir semua aspek.
• Didebat YLBHI, Politisi NasDem Bandingkan Era Jokowi dengan Soeharto: Anda Gak Ngalamin
Utamanya adalah penegakan hukum untuk koruptor dan juga pelanggar HAM
"Enggak ada tanda-tanda positif, masih seperti dulu," katanya seperti dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Senin (27/1/2020).
"Rumusnya gampang, korban pelanggaran HAM, pelanggaran hukum di masa-masa sebelum Jokowi enggak ada yang diselesaikan."
Haris juga berujar, bukannya menyelesaikan, pada masa pemerintahan kedua Jokowi ini justru malah menambah masalah.
Dalam penindakan korupsi, Haris mengatakan pemerintah malah terlihat mendukung para koruptor.
Hal ini dibuktikan dengan adanya undang-undang baru untuk KPK yang dinilai melemahkan lembaga antirasuah tersebut.
"Tapi di dalam zamannya dia (Jokowi) malah justru banyak kasus-kasus baru," paparnya.
• Jokowi Sebut Jiwasraya adalah Kasus Lama, SBY Merasa Terusik: Salahkan Saja Masa Lampau
"Kondisi penanganan korupsi itu juga tambah, dulu itu penanganan korupsi dilawan balik sama koruptor."
"Tapi di zaman Jokowi malah difasilitasi dengan undang-undang yang baru.'
"Jokowi sebenarnya suporternya para koruptor," kritiknya.
Tak cuma Haris, kinerja pemerintahan kedua Jokowi ini juga dikritik oleh anggota DPR RI Komisi III Benny Harman.
• 100 Hari Masa Jabatan Presiden, Ketua YLBHI Ungkit Janji Jokowi di Periode Kedua: Kita Dibohongi
Dikutip dari Kompas.com, Senin (27/1/2020), Benny mengatakan Jokowi hanya sibuk melakukan pelemahan terhadap KPK.
"Jokowi di 100 hari pemerintahannya sibuk dengan agenda pelemahan sistematis terhadap KPK," ujar Benny kepada wartawan, Senin (27/1/2020).
Tak cuma itu, politisi Demokrat ini juga menyoroti soal perkembangan penegakan HAM dan hukum yang tak ada perkembangan berarti.
Ia mengungkit kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga kini.
Seperti Tragedi Semanggi dan penganiayaan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.
Benny juga menyinggung soal kasus korupsi yang baru muncul lainnya, yaitu dugaan korupsi Jiwasraya dan dugaan suap yang melibatkan kader PDIP Harun Masiku.
"Malah kasus-kasus baru muncul seperti Jiwasraya, Asabri, kasus Harun Masiku, dan kasus Papua," kata Benny.
"Omnibus law yang dijanjikan akan selesai dalam 100 hari juga enggak jelas batang hidungnya," ujarnya.
Lihat video selengkapnya:
(TribunWow.com/Anung Malik/Fransisca Mawaski)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/luhut-binsar-pandjaitan-menjelaskan-pengalamannya-berdiskusi-dengan-seorang-konglomerat.jpg)