Kabar Tokoh
Tersangkut Kasus Penyelundupan Harley, Ini Kondisi Terkini Rumah Eks Dirut Garuda Ari Askhara
Begini kondisi kediaman eks Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara yang sering ia tinggalkan di Bali.
Penulis: Fransisca Krisdianutami Mawaski
Editor: Rekarinta Vintoko
"Ketemu yang bersangkutan pas saat piodalan, sembahyang saja, sekitar 1-2 jam selesai udah lagi pergi dah gak tau kemana," bebernya.
Dikenal Royal
Meski dikenal tertutup dan jarang berinteraksi, Mustika mengatakan keluarga Ari Askhara dikenal royal apabila terdapat kegiatan di kampung mereka.
"Sering mereka bantu-bantu kegiatan Banjar dalam bentuk dana sumbangan" ujarnya.
• Soal Kasus Penyelundupan di Pesawat Garuda, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang: Sudah Jadi Cerita Umum
Curahan hati pegawai
Ketua Umum Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI), Zaenal Muttaqin mengaku bahwa kebijakan eks Direktur Utama (Dirut) Garuda, Ari Askhara selama ini menyengsarakan pegawai.
Sebagaimana diketahui, Ari Askhara baru dicopot menjadi Dirut lantaran penyelundupan sparepart Harley Davidson dalam Pesawat Garuda.
Dilansir TribunWow.com melalui acara Sapa Indonesia Malam Kompas TV pada Jumat (6/12/2019), Zaenal mengatakan selama ini para awak kabin Garuda Indonesia tidak pernah bisa menolak kebijakan Ari Askhara yang dianggap menyengsarakan.
"Karena temen-temen kita itu tidak mampu untuk melakukan gerakan atau penolakan terhadap kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan kita sebagai awak kabin," ucapnya.
Sehingga inilah alasan mengapa para awak kabin segera mengirimkan karangan bunga tanda terima kasih pada Menteri BUMN, Erick Thohir yang sudah tegas mencopot Ari Askhara.
"Sehingga luapan emosi ini muncul dengan dengan ekspresi karangan bunga yang dikirimkan ke Kementerian BUMN," kata Zaenal.
• Terang-terangan, Said Didu Sebut Ari Askhara Pernah Diberhentikan sebagai Direktur Keuangan Garuda
Ia melanjutkan, selama ini para awak kabin hanya bisa menahan diri untuk mengikuti aturan.
"Jadi hal-hal yang memang selama ini kami menahan diri ini untuk mengikuti aturan-aturan atau peraturan tanpa melihat keadaan atau kondisi kita sebagai awak kabin," ungkapnya.
Saat ditanya satu di antara kebijakan apa yang janggal, Zaenal mengatakan anehnya peraturan penerbangan Jakarta-Sydney dan sebaliknya.
Ia menyebut awak kabin disebut dipaksa harus kembali dan tidak mendapat waktu istirahat menginap di Sydney.