Terkini Nasional
Indonesia Krisis Literasi, Ini Kata Mendikbud Nadiem Makarim
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berikan solusi untuk tangani krisis literasi siswa Indonesia.
Penulis: Fransisca Krisdianutami Mawaski
Editor: Ananda Putri Octaviani
Dilansir dari Kompas.com, Rabu (4/12/2019) menurut hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018 dari OECD (the Organisation for Economic Co-operation and Development), Indonesia berada dalam kelompok kurang.
PISA sendiri bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan siswa, terutama dalam tiga bidang, yaitu matematika, sains, dan literasi.
Data ini dipaparkan oleh Head Eraly Childhood and Schools OECD, Yuri Belfali dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno.
Totok mengungkapkan, pengukuran PISA ini melibatkan 12.098 siswa dari 399 sekolah di berbagai wilayah Indonesia yang dianggap mewakili.
"Domain yang diukur adalah membaca, selain itu dilakukan juga penilaian matematika, sains, literasi keuangan, kompetensi global," jelas Totok.
Saat ini kemampuan literasi siswa di Indonesia cukup rendah.
Tak hanya Indonesia, siswa di sejumlah negara seperti Saudi Arabia, Maroko, Kosovo, Republik Dominika, Kazakhstan, dan juga Filipina.
Rata-rata kemampuan baca negara-negara OECD berada di angka 487, sementara Indonesia sendiri berada di angka 371.
Peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor 555, lalu diikuti Singapura dan Makau dengan masing-masing skor 549 dan 525.
Ternyata tak hanya peningkatan literasi yang menjadi pekerjaan rumah bagi Mendikbud Nadiem Makarim, karena dalam bidang matematika dan sains, Indonesia juga punya nilai yang rendah.
Untuk skor PISA bidang matematika dan sains rata-rata adalah 489.
Indonesia hanya mencapai skor 379 untuk matematika dan 396 untuk sains.
Peringkat tertinggi ditemapti oleh China dan Singapura, yaitu dengan skor 591 dan 569.
• Nadiem Makarim Ungkap Alasan Terima Tawaran Menteri Jokowi: Tentu Saya Mikir, Deg-degan dan Mikir
(TribunWow.com/Fransisca Mawaski)