Bopong Jenazah

Kisah Lengkap Supriyadi Jalan Kaki Bopong Jenazah Ponakan karena Larangan Ambulans Bawa Mayat

Paman almarhum menceritakan kronologi gendong jenazah bocah di Tangerang setelah ambulans Puskesmas tidak bisa dipakai.

Facebook Yuni Rusmini
Jenazah seorang anak bernama Muhammad Husein (8) dibopong seorang pria dengan berjalan kaki 

Tiga kali ia gagal menghubungi nomor tersebut. Ia pun mencoba nomor-nomor lain yang diberikan pihak puskesmas, namun tidak ada yang tersambung.

Akhirnya ia meminta bantuan pihak puskesmas menghubungi kontak ambulans tersebut.

Tetapi pihak puskesmas juga kesulitan menghubunginya.

"Karena makin sore ya udah saya putuskan, saya tanya saudara saya yang lagi nungguin bisa enggak bawa jenazah pakai motor, bisa kata dia. Ya udah akhirnya saya bawa," ucapnya.

DImakamkan Malam Hari

Pihak puskesmas sempat menahan Supriyadi yang hendak menggotong keponakannya dengan berjalan kaki.

Namun Supriyadi yang ingin segera menguburkan Husen tetap pergi.

Saat hendak menaiki jembatan penyeberangan orang, seorang warga yang melintas kemudian menawarkan diri mengantarkan Supriyadi beserta jenazah Husen.

Tiba di rumah pukul 18.00 WIB, dibantu oleh warga sekitar jenazah Husen langsung dimandikan dan dishalatkan.

Barulah pada pukul 22.00 WIB, jenazah Husen dimakamkan oleh keluarga.

Ambulans Bukan untuk Jenazah

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Liza membenarkan bahwa ada aturan yang melarang ambulans di puskesmas dipakai untuk mengantarkan jenazah.

"Iya, ambulansnya yang Puskesmas Cikokol 119 lho, bukan ambulans biasa. Di dalamnya itu ada alat kesehatan, ventilitator, oksigen segala macam. Jadi kalau mau dipakai buat jenazah pun itu harus dikeluarin, kan enggak mungkin itu nempel," ucapnya ketika dihubungi terpisah.

Liza mengatakan pihaknya akan menjelaskan terkait SOP ambulans dan alternatif yang bisa dipakai untuk jenazah, Senin (26/8/2019) besok.

"Besok jam 10.00 WIB ya. Kita cerita, jadi ambulans tuh sebenarnya pelayanan gimana," tuturnya.

Video Gendong Jenazah Bocah di Tangerang

Sopiah (62) terisak tangis begitu menceritakan peristiwa yang dialami Husein (8) cucu yang dicintainya itu. Bocah berusia 8 tahun tersebut terpaksa dibopong pamannya yakni Supriadi (40) lantaran tak mendapatkan pelayanan ambulans di Puskesmas Cikokol, Kota Tangerang untuk mengangkut jenazahnya.

"Saya memang saat itu ada di Puskesmas. Nyawa cucu saya sudah tidak terselamatkan," ujar Sopiah berderai air mata saat dijumpai Warta Kota di kediamannya, RT 03 / RW 05 Kelurahan Kepala Indah, Tangerang, Minggu (25/8/2019).

Menurutnya, saat pihak keluarga ini membawa jenazah korban, tapi tidak dibolehkan diangkut mobil ambulans. Secuil kisah pilu itu pun membekas di dalam benak perempuan berumur 62 tahun ini.

"Sudah minta untuk dibawa ambulans, tapi tidak dibolehin. Akhirnya Supriadi, pamannya Husein mau gendong jenazahnya itu," ucapnya.

"Saya di situ nangis menjerit - jerit, gimana cara bawa mayatnya, kan susah itu. Niatnya mau dibawa pakai motor, tapi kan susah," kata Sopiah menangis sesegukan.

Dirinya menyebut beruntung ada orang baik yang melintas saat itu. Dan akhirnya jenazah cucunya ini diantar dengan menggunakan mobil oleh pengendara tersebut.

"Ya Allah Alhamdulillah akhirnya dapat pertolongan. Itu orang bener - bener baik banget. Untungnya juga jenazah cucu saya ngepas ditaruh di mobil itu. Semoga kebaikan orang itu dibales Allah, dimudahkan rezekinya," ungkapnya terdengar sendu.

Wajah Supriadi (40) tampak memerah saat menceritakan secuil kepiluannya menggotong Husein (8) sang keponakan setelah ditolak mendapatkan pelayanan ambulans di Puskesmas Cikokol, Kota Tangerang. Ia pun meluapkan kegeramannya itu di kala duka mendalam yang dirasakan setelah kehilangan bocah berusia 8 tahun ini untuk selama - lamanya.

Dirinya menjelaskan pada Jumat (23/8/2019), Husein ditemukan tenggelam di Sungai Cisadane, sore itu. Korban pun dibawa ke Puskesmas Cikokol dan nyawanya tidak tertolong.

"Saya nunggu lama di Puskemas sampai sekitar dua jam. Tapi tidak ada kejelasan soal pengangkutan jenazah keponakan saya ini. Padahal saya meminta tolong dengan sangat untuk pelayanan ambulans," ujar Supriadi saat dijumpai Warta Kota di rumah duka, RT 03 / RW 05 Kelurahan Kelapa Indah, Tangerang, Minggu (25/9/2019).

Namun pihak Puskemas tetap tidak bergeming. Dan tunduk pada aturan standar operasional prosedur (SOP) dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

"Saya disuruh untuk telepon layanan Pemkot Tangerang di nomer 112. Tapi saya telepon terus , terusan enggak bisa, susah juga," ucapnya.

Waktu pun semakin larut. Dan matahari hampir terbenam.

"Sudah mau malam, tapi tidak ada kejelasan. Padahal saya mau nguburin keponakan saya ini," kata Supriadi terlihat kedua matanya berkaca - kaca.

Sontak, Supriadi pun mendadak emosional. Pria berusia 40 tahun ini memilih untuk membawa jenazah Husein dengan berjalan kaki.

"Di situ saya memang kecewa berat. Saya langsung bopong jenazahnya, sampai sempat terpentok dinding. Langsung saya lewat jembatan," ungkapnya.

Beruntungnya, setelah di jembatan penyebrangan orang, Supriadi yang bergegas menggotong mayat keponakannya itu tiba - tiba saja ada yang memanggilnya.

"Alhamdulillah ada orang baik yang nolong saya. Pengendara mobil di dalamnya ada 4 orang sekeluarga. Mereka nawarin untuk membawa jenazah keponakan saya ini sampai ke rumah," papar Supriadi.

Husein bocah korban tenggelam di Sungai Cisadane mendapatkan penolakan pelayanan di Puskesmas Cikokol, Kota Tangerang.

Jenazah Husein dibiarkan begitu saja meski keluarga mohon untuk meminta pelayanan ambulans.

Permintaan itu pun tak diindahkan, bocah berusia 8 tahun ini mayatnya ditutupi sehelai kain.

Pada akhirnya jenazah Husein dibopong oleh pamannya berjalan kaki diantar ke rumah duka di Kampung Kelapa, Kota Tangerang.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menggelar takziah mendatangi kediaman korban, Minggu (25/8/2019).

Ia bersama rombongan menyampaikan permohonan maaf atas permasalahan tersebut.

Kendati demikian, dirinya terkesan melempar tanggung jawab dari permasalahan ini.

Arief salahkan anak buahnya yang tidak memberikan pelayanan yang tak manusiawi itu kepada korban.

"Ini yang salah dari Dinas Kesehatan. Nanti saya tegur pihak Puskesmasnya juga," ujar Arief kepada Warta Kota, Minggu (25/8/2019).

Padahal pihak Puskesmas menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai atasannya.

Dalam SOP tersebut mobil ambulans tidak diperbolehkan untuk membawa jenazah.

Hal itu pun diamini oleh Kadis Kesehatan Kota Tangerang Lisa Puspadewi.

Lisa menyatakan ambulans hanya dipergunakan bagi pasien dalam kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan segera.

"Ditambah di dalam mobil ambulans banyak alat medis yang harus dalam kondisi steril. Kalau digunakan untuk jenazah, khawatir berdampak pada pasien yang nantinya menggunakan ambulans itu," ucap Lisa.

Menanggapi hal itu, Wali Kota pun mengaku akan melakukan pembenahan di dalam tubuh Dinkes Kota Tangerang. Ia mengklaim akan segera melakukan revisi terkait SOP pelayanan ambulans ini.

"Saya panggilin nanti Dinkes dan Puskesmas, ini mereka yang harus tanggung jawab. Hari ini juga SOP penggunaan ambulans dalam pelayanan masyarakat di Puskesmas saya revisi," kata Arief.

Pengamanan di Sungai Cisadane

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan pengamanan di sekitar bantaran Sungai Cisadane.

Dan juga meminta kepada Kementerian PUPR untuk membangun turap di sepanjang Sungai Cisadane sehingga tidak ada lagi menimbulkan korban jiwa.

"Kami meminta pengamanan. Misalnya dibuat pagar dulu atau seperti apa gitu, agar tidak ada korban lagi," ujar Arief saat mendatangani kediaman Husein, Minggu (25/8/2019).

Arief menyambangi rumah duka untuk menggelar takziah dan meminta maaf kepaa korban.

Pasalnya jenazah Husein juga diterlantarkan oleh pihak Puskesmas Cikokol tak diberi pelayanan ambulans.

"Kami juga akan bersurat ke Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane untuk menindak lanjuti penurapan," ucap Wali Kota.

Menurutnya hal itu harus segera dilakukan. Sebab banyak anak - anak yang bermain bebas di lokasi tersebut.

"Supaya jangan ada lagi korban - korban lain di pinggir Sungai Cisadane yang mengakibatkan kerugian buat masyarakat," kata Arief. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Viral, Pria Gendong Jenazah karena Ambulans Puskesmas Tak Bisa Dipakai, Begini Cerita Lengkapnya" dan di Tribunnews.com dengan judul "Cerita Lengkap Supriyadi Gendong Jenazah Ponakan ke Rumah Karena Tidak Diberi Ambulans Puskesmas"

WOW TODAY:

Ikuti kami di
Editor: Lailatun Niqmah
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved