Kabar Tokoh
Rocky Gerung Sebut PA 212 Bukan Permainan Politik Prabowo: Sulit Jawab Posisinya, Perlu Trump
Pengamat Politik, Rocky Gerung angkat suara soal teka-teki posisi Presidium Alumni (PA) 212 setelah pertemuan Prabowo Subianto dan Joko Widodo.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Pengamat Politik, Rocky Gerung angkat suara soal teka-teki posisi Presidium Alumni (PA) 212 setelah pertemuan capres Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu.
Menurut Rocky Gerung, PA 212 bukan permainan politik Prabowo Subaianto.
Dilansir TribunWow.com, hal itu Rocky Gerung sampaikan melalui acara 'Indonesia Lawyers Club' unggahan kanal Youtube Indonesia Lawyers Club pada Selasa, (30/7/2019).
Awalnya, Rocky Gerung mengakui, pertanyaan soal posisi PA 212 adalah sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
Bahkan, Rocky Gerung sampai menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang hanya bisa menjawab teka-teki posisi PA 212 kini.
"Dari tadi enggak ada yang jawab secara telak soal posisi 212, karena memang sulit," kata Rocky Gerung.
• Rocky Gerung Sebut Kesetiaan Prabowo ke Pendukungnya Diuji: Problemnya Jokowi Mau Reshuffle Sekarang
"Sehingga mungkin perlu Donald Trump yang jawab itu, jika ia ke sini diundang Presiden Jokowi sekaligus tanya, menurut Donald Trump itu ke Gondangdia atau Teuku Umar," celoteh Rocky Gerung.
Menurut posisi PA 212 seharusnya tak menjadi bahan perdebatan setelah pertemuan para tokoh, seperti Prabowo Subianto dengan Jokowi.
"Jadi kalau ada pikiran bahwa 212 ini dipertanyakan eksistensinya hanya karena ada pertemuan antar tokoh politik seminggu ini, seolah-olah 212 permainan kemarin sore," ucapnya.
Rocky Gerung melanjutkan, PA 212 juga bukan permainan politik Prabowo Subianto.
"Saya menangkap ada roh yang jujur pada gerakan itu lepas dari kontroversinya, 212 bukan permainan politik Prabowo," lanjut Rocky Gerung.
• Rocky Gerung Kritik Visi Misi Jokowi yang Dianggap Tak Tajam: Jadi Presiden Mau Hajar Diri Sendiri
Rocky menilai gerakan PA 212 harus dihargai oleh berbagai pihak.
"212 tidak memperoleh legitimasinya di Monas, atau kelanjutanya 414 atau dan seterusnya, 212 adalah teks sosial bangsa ini, hasil imajinasi bangsa ini dan kita mesti hormati itu," katanya.
Sehingga ia menyayangkan, PA 212 dianggap gerakan radikal oleh beberapa kalangan.
"Ngaconya adalah seluruh konsep bernegara itu, lalu disederhanakan sebagai ancaman bahkan disebut teroris," kata Rocky Gerung.