Terkini Nasional
Pembina PSM UMB Sebut Bangsa Indonesia Harus Belajar Banyak dari Paduan Suara
Bangsa Indonesia harus banyak belajar dari paduan suara sebagai salah satu upaya menumbuhkan toleransi dan kebhinnekaan.
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Belum lagi jika paduan suara dituntut untuk melakukan gerak dan tari.
Jika tidak mampu merawat perbedaan, menjunjung tinggi etika, menghormati satu sama lain dan patuh kepada aba-aba dirijen (konduktor) paduan suara yang solid dan kompak tidak mungkin dapat dibentuk.
“Dalam paduan suara juga berlaku musyawarah untuk mufakat."
"Karena berangkat dari semangat, hobi dan menderita bersama, segala sesuatunya dibicarakan bersama sebagaimana yang terjadi pada PSM Universitas Mercu Buana."
"Sebagai pembina, saya itu bahagia jika melihat mahasiswa-mahasiswi paduan suara bergurau dengan cara mereka."
"Ketika waktu istirahat latihan, ada satu atau dua anggota yang menyanyi sendiri dan diiringi oleh pianis yang diambilkan dari mereka."
"Sementara yang satu bernyanyi, sisanya mendengarkan dan memberi apresiasi ketika rekannya selesai bernyanyi,” ungkap Arissetyanto Nugroho.

Aris, demikian panggilan akrab mantan Rektor UMB itu, mengatakan, dalam bernyanyi ada satu ungkapan bahasa latin yakni BENE CANTAT BIS ORAT – Siapa yang bernyanyi dengan baik, ia sama dengan berdoa dua kali.
Artinya, jika anggoa PSM menyanyikan lagu rohani yang dinyanyikan dengan baik, apakah tidak berarti sebenarnya mereka berdoa dua kali.
“Termasuk jika kita menyanyikan dengan baik lagu nasional, lagu cinta tanah air, lagu kebangsaan, lagu perjuangan. Isi lagu itu akan memberikan energi pada mereka yang menyanyi dan juga memberikan sentuhan semangat lagu yang ada dalam lagu itu,” ujar Arissetyanto Nugroho.
Sebagian bangsa Indonesia belakang ini atau beberapa tahun belakangan, Alumnus Lemhannas PPSA XXI itu mengajak, terlampau banyak nada sumbang, nada kebencian, nada permusuhan yang dinyanyikan.
Jika bangsa Indonesia bersama-sama melantunkan lagu yang indah, bernyanyi dengan kompak dan baik, tentu bukan kebencian dan perpecahan yang terjadi tetapi persatuan.
“Sepertinya bangsa Indonesia harus banyak menyanyi... yang kita dengar belakangan ini bukan menyanyi tetap teriakan dan suara kebencian. Perlu belajar mereka yang menyanyi dalam paduan suara,” pungkas Arissetyanto. (Pers release)
WOW TODAY: