Pilpres 2019

Soal Apa Untungnya Jokowi Ajak Prabowo Gabung di Kabinet, Ini Kata Analis Politik

Mengenai struktur kabinet baru untuk periode 2019-2024, saat ini menjadi bahasan di tengah partai koalisi kubu 01 dan kubu 02, Berikut analisisnya.

Soal Apa Untungnya Jokowi Ajak Prabowo Gabung di Kabinet, Ini Kata Analis Politik
KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA
Jokowi dan Prabowo sempat bergandengan tangan saat deklarasi kampanye damai yang digelar KPU di Lapangan Monas, 23 September 2018. 

TRIBUNWOW.COM - Mengenai struktur kabinet baru untuk periode 2019-2024, saat ini menjadi bahasan di tengah partai koalisi kubu 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan kubu 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Analis Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno memberikan argumennya dan menganalisis keuntungan bagi Jokowi, apabila menang pilpres dan mengajak koalisi Prabowo bergabung.

Hal ini diungkapkannya saat menjadi narasumber dalam program 'Layar Demokrasi', dikutip dari saluran YouTube CNN Indonesia, Rabu (26/6/2019).

Jelang Putusan MK, Kuasa Hukum 01: Kita Yakin 99,99 Persen Gugatan Pihak Pemohon Ditolak

Adi lantas menilai kabinet dengan asal dua koalisi tersebut tidak kondusif.

"Saya kira enggak kondusif, orang gemuk itu relatif enggak lincah, kan begitu, komposisi kabinet gemuk ini khawatir obesitas," ujar Adi.

Menurutnya, akan ada program kerja Jokowi yang tidak terakomodir karena terlalu banyak interupsi.

"Sehingga banyak program kerja yang ingin di bypass oleh Jokowi selama 5 tahun ke depan perbaikan ekonomi, jadi enggak kondusif mengakomodir kepentingan, terlalu banyak intrupsi dari dalam, begitu banyak pertimbangan-pertimbangan yang ini kemudian tidak efektif untuk Jokowi memerintah," papar Adi.

Analis Politik Prediksi jika Kubu Jokowi-Prabowo Benar Bergabung: Kabar Buruk bagi Demokrasi Kita

Ia kemudian menilai, bahwa kecenderungan politik di Indonesia adalah merangkul lawan yang kalah.

"Tapi kalau melihat kecenderungannya, politik kita itu zero enemy, jadi mau kalah mau teman, ini harus dikurangi tensi politiknya, jadi yang kalah kita rangkul sebagai supaya untuk membangun kebersamaan, itu yang saya sebut sebagai zero enemy, jadi mau Jokowi mau SBY, mau Mega dan seterusnya, kecenderungan kalau berkuasa, dia ingin mengajak yang kalah," tuturnya.

"Tapi catatan saya, rekonsiliasi itu bukan berarti mengajak semua kelompok oposisi menjadi bagian penting," ujar Adi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Rekarinta Vintoko
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved