Terkini Daerah

Kasus Tiga Oknum Guru Cabuli Tiga Siswi SMP di Serang, Ini Sikap KPAI

Komisioner KPAI Retno Listyarti tampak memberikan sikap terhadap kasus asusila tiga oknum guru yang setubuhi 3 siswi SMP di Serang.

Kasus Tiga Oknum Guru Cabuli Tiga Siswi SMP di Serang, Ini Sikap KPAI
Tribunnews.com/Glery Lazuardi
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti 

TRIBUNWOW.COM - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang melakukan antisipasi agar tindak asusila di lingkungan sekolah tidak kembali terjadi.

Menurut dia, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Serang perlu mendorong sekolah-sekolah menginisiasi program Sekolah Ramah Anak (SRA) dan mengimplementasikan Permendikbud No 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan.

"Dinas Pendidikan perlu melakukan sosialisasi kepada seluruh kepala sekolah di kota Serang untuk mengantisipasi agar perbuatan serupa tidak terjadi lagi, baik di SMPN yang bersangkutan maupun sekolah-sekolah lainya di kota Serang," kata Retno, dalam keterangannya, Minggu (23/6/2019).

3 Oknum Guru Setubuhi 3 Siswi SMP di Serang, Gelar Pesta Seks di Ruang Lab hingga Ada yang Hamil

 

Selain itu, KPAI mengusulkan untuk mengantisipasi atau mencegah perbuatan serupa terjadi, seharusnya pemerintah daerah memberikan dukungan sekolah untuk memasang closed circuit television (CCTV) di kelas-kelas dan ruang laboratorium.

"Serta ruang lain yang dianggap rawan digunakan berbuat mesum di lingkungan sekolah," kata dia.

KPAI pun mengapresiasi Sekretaris Daerah Serang yang telah memerintahkan pemecatan terhadap guru Honorer dan penonaktifan tugas guru ASN di salah satu SMPN di Serang pasca pelaporan orangtua salah satu korban yang anaknya hamil akibat perbuatan gurunya.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong agar para guru tersebut diproses hukum.

Pihaknya akan mengawasi kerja pihak kepolisian atas kasus ini agar ketiga terduga pelaku segera diproses hukum dan dituntut hukuman sesuai dengan UU Perlindungan Anak dengan maksimal dan ditambah dengan hukuman pemberatan karena memenuhi unsur pelaku adalah orang terdekat korban.

"Maksimal hukuman perbuatan ini adalah 15 tahun dan dapat dilakukan pemberatan hukuman yaitu 1/3 (sepertiga) dari hukuman maksimal tersebut, sehingga para pelaku dapat dituntut 20 tahun," kata dia.

Dia menambahkan, berhubungan badan dengan anak menurut UU Perlindungan anak adalah suatu kejahatan atau tindak pidana, tidak ada istilah “suka sama suka”.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Rekarinta Vintoko
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved