Begini Respons Pengemudi Ojek Online terkait Uji Coba Tarif dan Perang Promo
Per 1 Mei 2019, dua aplikator ojek online telah menerapkan tarif baru tersebut. Namun, dengan tarif yang naik malah membuat orderan sepi.
Editor: Mohamad Yoenus
"Menurut saya kebijakannya diratain saja. Maksudnya, ketika tarif naik tapi orderan tidak ada kan percuma," kata Deni.
• Mantan KPPU Nilai Kemenhub Harus Atur Promo Tarif Ojek Online
"Mending tarifnya standar tapi orderan ada terus. Kalo customer kan lebih milih tarif yang lebih murah, apalagi ada kompetitor," kata Deni.
Hal senada disampaikan Muhammad Kriswiyanto (39) yang juga driver Go-Jek.
Ia sendiri tak mengalami masalah sepinya orderan saat Go-Jek menaikkan tarif.
Sebab, menurut dia, ojol sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa terlepas dari keseharian masyarakat.
Meski begitu, ia sepakat tarif ojol seharusnya dipukul rata. Jadi antara Grab dan Go-Jek tarifnya setara.
Kita Tunggu Kajiannya Menurut dia, yang menjadi masalah bukan hanya soal tarif, tapi soal promo.
Dia menyebut, promo yang diberikan kompetitor sangat mempengaruhi orderan yang masuk ke aplikasinya.
Dengan adanya promo potongan harga atau bundling paket perjalanan, maka secara otomatis pelanggan akan lari ke kompetitor.
"Kalau disamaratakan promonya sebenernya bisa lebih sejahtera kami (driver)," kata Kriswiyanto.
Oleh karena itu menurut dia, Kemenhub tak hanya mengatur soal tarif, tapi juga promo yang diberikan aplikator ojol.
Dengan adanya pengaturan promo yang masuk akal dan tak memberatkan kompetitor, maka kesejahteraan driver lebih merata.
"Jadi tidak ada kecemburuan sosial, tidak ada persaingan tidak sehat antara driver. Kalau seimbang promonya diatur Kemenhub, akan sejahtera driver-nya," kata Kriswiyono. (Ambaranie Nadia Kemala Movanita)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Soal Perang Promo Ojek Online, Ini Kata Para Pengemudi
WOW TODAY: