Breaking News:

Pilpres 2019

Jimly Beberkan Pendapatnya soal Beda Pilpres 2014 dan 2019, Sebut Pembelahan Makin Berbasis SARA

Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie mengungkapkan pendapatnya soal beda pilpres 2014 dan 2019. Ini menyebut soal polarisasi di masyarakat.

Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Lailatun Niqmah
Tribun Jateng
Jimly Asshiddiqie 

TRIBUNWOW.COM - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai polarisasi yang terjadi di masyarakat tak bisa disepelekan.

Dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com, hal ini ia sampaikan merujuk pada timpangnya perolehan suara kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di sejumlah daerah di Indonesia.

Atas fenomena tersebut, Jimly menilai perlunya untuk bersikap waspada.

Prabowo Sempat Nyatakan akan Tolak Hasil Pilpres KPU, BPN Tetap akan Ikuti Rekapitulasi 22 Mei Nanti

Sebagai contoh, terang Jimly, perolehan suara pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin yang tak sampai 20 persen di Aceh dan Sumaetera Barat.

Sementara pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, memiliki perolehan suara yang tak sampai 20 persen di Papua, NTT, dan Bali.

"Jadi ini ada fenomena religious divide. Jadi beda pilpres 2014 dan 2019 sekarang ini pembelahannya makin emosional, makin berbasis SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan,-red)," kata Jimly di Tugu Proklamasi, Sabtu (18/5/2019).

Karenannya, Jimly mengajak semua pihak untuk dapat mewujudkan suasana tenang dan damai seusai Pemilu 2019 terselenggara.

Ia juga mengimbau kepada para tokoh untuk memberikan statemen yang berisi pernyataan saling menghormati dan menyejukkan mastarakat.

Sementara, bagi pihak yang dinyatakan kalah, Jimly meminta agar pihak tersebut mampu menahan diri agar tidak menggunakan pengerahan massa.

Menurut dia, sebanyak apapun massa yang diajak untuk turun ke jalan itu tidak akan bisa menandingi jumlah pemilih yang memberikan suaranya pada hari pencoblosan, 17 April lalu.

Selanjutnya, untuk pihak yang menang, Jimly meminta agar pihak tersebut tak merendahkan pihak yang kalah.

Menurutnya, perlu bagi kedua pasangan calon untuk saling menghormati dan tidak merendahkan satu sama lain, demi tercipta suasana pasca-pemilu yang aman dan tentram.

Mantan ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ini juga menyampaikan kritiknya soal karangan bunga hasil kiriman masyarakat yang masih saja terus di simpan kedua paslon.

Jimly memberi saran, bunga-bunga itu sebaiknya dibuang saja.

Moeldoko Angkat Bicara soal Isu Tembakan untuk Massa di 22 Mei, Sebut Skenario Kelompok Tertentu

Ini dikarenakan, terang Jimly, hingga kini proses pemilu masih berlangsung.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved