Breaking News:

Kabar Tokoh

Putut Prabantoro Ungkap Pentingnya Penggunaan Sila Keempat Pancasila sebagai Pola Komunikasi

Konsultan Komunikasi Publik, AM Putut Prabantoro mengatakan bahwa komunikasi yang berhikmat tidak dapat dilepaskan dari sila keempat pancasila.

Penulis: Vintoko
Editor: Lailatun Niqmah
Pres Rilis yang diterima TribunWow.com
Kasgartap I/Jakarta Brigjen TNI Herianto Syahputra (duduk tengah nomor empat dari kanan) dan Narasumber, AM Putut Prabantoro, Konsultan Komunikasi Publik, yang juga Alumnus Lemhannas PPSA XXI (duduk bersafari) berfoto bersama dengan jajaran Kogartap I/Jakarta. Jajaran pimpinan Kogartap I / Jakarta mengikuti kursus komunikasi dengan judul “MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BERHIKMAT”, di Jakarta, Senin (29/04/2019). 

TRIBUNWOW.COM - Konsultan Komunikasi Publik, AM Putut Prabantoro mengatakan bahwa komunikasi yang berhikmat tidak dapat dilepaskan dari sila keempat pancasila.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kursus komunikasi yang digelar Komando Garnisun Tetap I / Jakarta (Kogartap I/JKT) dengan judul "Membangun Komunikasi yang Berhikmat”, di Jakarta, Senin (29/04/2019).

Menurutnya, sila keempat Pancasila telah mengajarkan bangsa Indonesia untuk harus berkomunikasi satu sama lain.

Khusus Jawa Timur, Membayar Pajak Tahunan Bermotor tak Harus ke Samsat

AM Putut Prabantoro mengatakan ancaman perpecahan akibat pilkada, pileg ataupun pilpres tidak terlepas dari penggunaan sila keempat Pancasila sebagai pola komunikasi.

“Kita sebenarnya lupa bahwa Sila Keempat ini merupakan pola komunikasi dalam masyarakat. Kata Hikmat dalam kata hikmat kebijaksanaan ini sebenarnya merupakan pola komunikasi termasuk politik untuk menguatkan dan menjaga Sila Ketiga, yakni Persatuan Indonesia," kata AM Putut Prabantoro, seperti rilis yang diterima TribunWow.com.

"Kita sudah melihat kekacauan komunikasi politik nyata-nyata terjadi ketika diselenggarakannya pilkada DKI Jakarta tahun 2017 di mana politik identitas, demam hoax, ujaran kebencian, persekusi, bullying terjadi Persatuan Indonesia terancam ikatannya karena komunikasi politik kita mengijinkan cara-cara komunikasi yang tidak sesuai dengan Pancasila,” lanjut Putut Prabantoro.

Menurut Putut Prabantoro, pengertian hikmat atau hikmah merupakan pengertian atau pemahaman secara integral atau satu kesatuan

Seperti tentang orang, barang, kejadian atau situasi yang menghasilkan kemampuan untuk menganalisa, mengimplementasikan persepsi, penilaian, atau perbuatan sesuai dengan makna yang sebenarnya.

“Dalam komunikasi berhikmat ini, dibutuhkan penguasaan terhadap reaksi emosional komunikator terhadap suatu berita, informasi yang diterima untuk kemudian dipertimbangkan, dianalisa berdasarkan pengetahuan universal yang dipahaminya untuk kemudian dapat menentukan tindakan selanjutnya," jelas Putut Prabantoro.

"Secara singkat, dalam berkomunikasi yang berhikmat diperlukan pemahaman menyeluruh atas semua informasi yang masuk berdasarkan data-data valid yang ada. Artinya, cross check kebenaran suatu informasi merupakan suatu kebutuhan,” ujar dia menambahkan.

Jokowi Putuskan Ibu Kota Indonesia Dipindah ke Luar Jawa, 3 Provinsi Ini Jadi Kandidat, Mana Saja?

Menurut pria yang menjabat sebagai Ketua Presidium ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) Bidang Komunikasi Politik itu berkomunikasi yang berhikmat dapat diartikan sebagai komunikasi yang meletakkan pada nilai-nilai kebijaksanaan, kecerdasan, akal budi, akal sehat, kecerdikan dan juga “tepa seliro”.

Alumnus Lemhannas PPSA XXI itu juga menegaskan bahwa dalam komunikasi berhikmat setiap komunikator dituntut memiliki pemahaman yang cukup.

Baik itu soal sebab-akibat, aksi-reaksi, analisa dan dampak, dan selalu mengajukan pertanyaan utama dengan kata "mengapa" sesuatu terjadi demikian dan tidak cukup hanya mengetahui sebuah informasi semata.

Menurutnya, “local wisdom” sebenarnya mengacu pada nilai-nilai luhur daerah setempat.

Artinya, dalam berinteraksi dengan masyarakat seseorang harus berinteraksi dan sekaligus menghormati nilai-nilai luhur yang ada di daerah tersebut.

Halaman
12
Tags:
AM Putut PrabantoroPancasilaDKI Jakarta
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved