Pilpres 2019

Soal Survei Internal Prabowo, Ferdinand Bocorkan Konsep Rekapitulasi Data C1: TKN Tak Perlu Lihat

Ferdinand Hutahaean menuturkan proses rekapitulasi internal surat suara Pilpres 2019 kubu 02 berbeda dengan milik kubu 01.

Soal Survei Internal Prabowo, Ferdinand Bocorkan Konsep Rekapitulasi Data C1: TKN Tak Perlu Lihat
Tribunnews/Jeprima
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat memberikan keterangan pers terkait perolehan suara di exit poll internal tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 di Kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019). Pada keterangan pers tersebut Prabowo mengklaim dirinya mengungguli pasangan Joko Widodo dan Maruf Amin. 

TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean menuturkan proses rekapitulasi internal surat suara Pilpres 2019 kubu 02 berbeda dengan milik kubu 01.

Menurut Ferdinand, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin tak perlu membayangkan bagaimana proses perhitungan real count yang dilakukan kubunya.

Ia mengatakan milik BPN berbeda dengan milik pihak TKN Jokowi-Ma'ruf yang disebut war room.

"Jangan dibayangkan bahwa kami itu seperti apa yang dipunya TKN. Kami punya konsep berbeda terkait dengan pengumpulan suara C1 bukan seperti war room-nya TKN mungkin ya," kata Ferdinand, dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, Kamis (25/4/2019).

Lanjutnya, ia menilai TKN tak perlu menilik proses rekapitulasi suara survei kubunya.

Hal ini karena bersifat rahasia dan akan menjadi barang bukti di Mahkamah Konstitusi.

"Boleh saja, tapi saya pikir tidak perlu karena itu sifatnya rahasia dan nanti ujungnya akan jadi barang bukti di MK," ujar Ferdinand.

BPN Sebut Prabowo Menolak Bertemu Utusan Jokowi, Djoko Santoso: Prabowo Setia Kepada Kita

Dibocorkannya, kubu 02 miliki konsep rekapitulasi yang berpindah-pindah dan bergeser satu tempat dan lainnya.

Ferdinand mengatakan rekapitulasi yang telah dimulai pada hari pemungutan suara, yakni Rabu (17/4/2019) itu menggunakan teknologi komputer jinjing.

"Kemudian bergeser karena masalah teknologi ya modal komputer jinjing kemudian WiFi kita bisa geser kemana-mana untuk bergerak mengumpulkan formulir C1," kata dia.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, di Kantor DPP Partai Demokrat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018).
Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, di Kantor DPP Partai Demokrat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018). (Tribunnews.com/ Rina Ayu)
Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Lailatun Niqmah
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved