Kabar Tokoh

Dengar Jawaban Capres Fiktif Nurhadi, Sudjiwo Tedjo Tertawa hingga Gebrak Meja

Pekerja Seni, Sudjiwo Tedjo tampak tertawa dan menggebrak-gebrak meja setelah mendengar jawaban dari calon presiden fiktif Nurhadi.

Dengar Jawaban Capres Fiktif Nurhadi, Sudjiwo Tedjo Tertawa hingga Gebrak Meja
Capture/YouTube Kompas TV
Sudjiwo Tedjo dan calon presiden fiktif Nurhadi 

"Sekarang ketika fenomena politik jadi serius dan padahal enggak serius juga sih. Yang kita tunggu adalah kalau enggak tukang pijit, orang gila atau tuka pijit yang gila," kata Sudjiwo Tedjo yang disambut tawa oleh Nurhadi.

Tampil di TV, Capres Fiktif Nurhadi Tak Kuasa Tahan Tawa Dengar Omongan Sudjiwo Tedjo

Diketahui, pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif, Nurhadi-Aldo sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Nurhadi dan Aldo merupakan paslon fiktif buatan netizen.

Meski tidak benar-benar berpartisipasi dalam Pilpres 2019, paslon Nurhadi - Aldo memiliki banyak penggemar di media sosial karena nada "kampanye" mereka yang kocak.

Meski nada kampanye Nurhadi-Aldo cenderung kasar dan sedikit vulgar, gaya candaan mereka tetap disukai netizen.

Sosok keduanya seakan menjadi intermezzo menjelang pemilihan presiden 2019.

Di samping sosok Nurhadi-Aldo yang viral, tagar dan kalimat yang disampaikan keduanya juga viral.

Pada awalnya, tidak ada yang mengetahui siapa sosok di balik capres cawapres fiktif ini.

Hingga kemudian terungkap fakta siapa sebenarnya Nurhadi, sang calon presiden fiktif.

Nurhadi ternyata seorang tukang pijit asal Kudus yang memang gemar melontarkan kata-kata kocak.

Ketika ditanya tentang calon presidennya, Nurhadi justru tak tahu menahu.

"Saya malah tidak tahu dan tidak kenal siapa cawapres pasangan saya itu," tutur Nurhadi, Pria kelahiran Kudus, 10 Agustus 1969 kepada Kompas.com, Minggu (6/1/2019).

Diberitakan Tribunnews, Nurhadi adalah hasil imajinatif seorang warga yang mengaku berasal dari Yogyakarta.

Pada Desember 2018 lalu, seseorang yang mengaku bernama Edwin asal Sleman DIY, menghubunginya via aplikasi messenger.

Dalam obrolan itu, Edwin mengaku sangat mengagumi Nurhadi.

Awalnya, beberapa tahun lalu, melalui akun Facebook pribadi, Nurhadi membentuk "Komunitas Angka 10".

"Nah, kemudian ada orang yang mengaku dari Yogyakarta bernama Edwin. Dia yang mengikuti akun saya itu mengaku ngefans dengan saya. Apalagi pengikut saya di komunitas angka 10 mencapai puluhan ribu. Kata dia, unggahan-unggahan saya itu lucu dan menginsiprasi," kata Nurhadi.

Dari situlah kemudian capres dan cawapres bayangan, Nurhadi dan Aldo (Dildo) mulai tercipta.

Edwin terus intens berkomunikasi dengan Nurhadi.

Saat itu, Edwin meminta izin kepada Nurhadi apakah berkenan jika nama dan wajahnya diviralkan melalui medsos sebagai capres fiktif.

Nurhadi pun mengamini penawaran itu asalkan tidak melanggar hukum dan agama.

Apalagi, mereka sama-sama jengah atas situasi menjelang Pilpres 2019 yang menurut mereka sudah tidak sehat.

Maka, terbentuklah capres dan cawapres fiktif tersebut di medsos hasil karya Edwin yang disebutnya sebagai tim suksesnya.

Capres-cawapres fiktif itu hanya sebatas "dagelan politik" yang berisi sindiran-sindiran dengan politik saling sikut saat ini.

"Saya jawab, kenapa harus saya kok tidak orang lain saja. Kata Edwin sih saya lebih berpotensi tenar karena dikenal banyak pengikutnya. Ya sudah saya setuju dengan syarat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebagai humor politik saja untuk meredam ketegangan suasana Pilpres 2019. Saya enggak mau terjadi keributan hanya karena beda pilihan presiden," ungkap Nurhadi.

(TribunWow.com/Rekarinta Vintoko)

Ikuti kami di
Penulis: Vintoko
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Sumber: Kompas TV
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved