Tingkat Bunuh Diri pada Anak-anak di Jepang Duduki Peringkat Tertinggi dalam 3 Dekade Terakhir
Angka bunuh diri pada anak-anak di Jepang duduki peringkat tertinggi dalam 3 dekade, pemicunya didominasi oleh tekanan serta bullying di sekolah.
Penulis: Ifa Nabila
Editor: Astini Mega Sari
TRIBUNWOW.COM - Tingkat bunuh diri pada penduduk usia muda di Jepang menduduki peringkat tertinggi selama 3 dekade.
Dilansir TribunWow.com dari Nytimes.com pada Kamis (8/11/2018), Jepang memiliki masalah mendalam tentang bunuh diri, meski angka bunuh diri sudah terus menurun.
Meski demikian, kasus bunuh diri pada anak-anak tengah meningkat baru-baru ini.
Para ahli menyebut jika tekanan dan penindasan atau bullying di sekolah sebagai pemicu terbesar.
• Tak Diturunkan di Halte Pemberhentiannya, Penumpang Wanita Pukul Sopir hingga Bus Terjun ke Sungai
Pada 2017, tercatat 250 siswa SD, SMP, dan SMA melakukan bunuh diri.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1986, menurut data yang dirilis oleh Kementrian Pendidikan Jepang pada Oktober 2018.
Menurut survei Kementrian Pendidikan di sekolah, sebagian besar siswa tidak meninggalkan penjelasan mengapa mereka memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri.
• Pangeran Mohammed bin Salman Sebut Jamal Khashoggi adalah Tokoh Radikal yang Berbahaya
Dilihat dari perilaku mereka sebelum bunuh diri, alasan yang paling sering disebut oleh orang sekitar adalah kekhawatiran pelaku bunuh diri atas jalan yang harus ditempuh setelah lulus dari sekolah.
Alasan lainnya adalah permasalahan keluarga serta bullying.
Sebuah survei terpisah oleh Kantor Kabinet Jepang pada 2015 juga pernah mengungkap bahwa kasus bunuh diri di kalangan anak-anak cenderung meningkat.
• Alasan Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz Menolak Undangan Trump ke Gedung Putih
Kemungkinan terbesar disebabkan oleh tekanan sekolah yang lebih intens setelah liburan musim panas.
Meski bunuh diri di kalangan anak-anak bukanlah hal yang baru di Jepang, namun gangguan mental masih belum menjadi topik diskusi terbuka.
Karena image tabu tersebut, anak-anak dan remaja pun merasa enggan untuk mencari bantuan. (TribunWow.com/Ifa Nabila)