Breaking News:

Pembunuhan Jamal Khashoggi

Tulisan Terakhir Jamal Khashoggi sebelum Dibunuh, Ungkap Pemerintah Saudi yang Terus Bungkam Media

Sebelum ia menghilang, diketahui Jamal Khashoggi menulis opini untuk The Washington Post yang berisi tentang kebebasan pers di negara-negara Arab.

Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Claudia Noventa
theaustralian.com.au
Jamal Khashoggi 

Berturut-turut menyusul adalah Yordania, Maroko, dan Kuwait.

Sedangkan sisanya, diklasifikasi sebagai negara tidak bebas.

Menurutnya, hal itu mengakibatkan masyarakat Saudi menjadi masyarakat sang tertinggal dan kerap salah informasi.

Dia juga menyampaikan harapan para jurnalis, akademisi, dan masyarakat umum akan kebebasan usai revolusi besar Arab yang dikenal dengan Arab Spring pada 2011.

Harapan itu, kata Khashoggi, sirna karena situasi kebebasan tidak berubah, malah lebih parah.

Ia juga menceritakan soal penangkapan jurnalis dan aktivis yang dilakukan di Arab Saudi dan Mesir.

"Pemerintah Arab diberi kebebasan untuk terus membungkam media dengan laju yang terus meningkat," tulis Khashoggi.

"Mereka juga menangkap wartawan lokal dan menekan para pengiklan untuk merusak pendapatan dari publikasi tertentu," imbuhnya.

Namun, jelas Khashoggi, juga ada angin besar yang mewujudkan semangat Arab Spring.

Yaitu, tulisnya, pemerintah Qatar yang memberikan dukungannya atas liputan berita internasional.

Sayangnya, ungkap Khashoggi, hal itu berbeda dengan tetangganya yang terus berusaha membungkam kebebasan pers.

"Dunia Arab menghadapi Tirai Besi versinya sendiri, diberlakukan bukan oleh aktor eksternal tapi melalui kekuatan domestik yang berlomba merebut kekuasaan," tulis Khashoggi.

"Dunia Arab perlu versi modern dari media transnasional lama agar warga bisa dapat informasi soal isu global. Lebih penting lagi, kita perlu menyediakan sarana bagi suara-suara Arab."

"Melalui penciptaan forum internasional yang independen, dijauhkan dari pengaruh pemerintahan nasionalis yang menyebarkan kebencian melalui propaganda, masyarakat umum di dunia Arab akan mampu mengatasi masalah struktural yang mereka hadapi," tutupnya.

Eskalator Tiba-tiba Berjalan Sangat Cepat, 30 Orang Alami Luka-luka dan 1 Kaki Korban Diamputasi

Diberitakan TribunWow.com dari Washingtonpost.com, Selasa, (23/10/2018), pembunuhan Khashoggi membuat dunia internasional memfokuskan perhatian kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, yang diduga menjadi otak dibalik pembunuhan Khashoggi.

Halaman
123
Tags:
Jamal KhashoggiPembunuhan Jamal KhashoggiArab SaudiTurkiWartawanMedia Massa
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved