Agenda Presiden
VIDEO: Detik-detik Presiden Jokowi Mendapat Standing Ovation karena Pidato 'Game of Thrones'
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menuai pujian dari para delegasi yang mengikuti serangkaian acara Rapat Tahunan IMF-WB.
Penulis: Hestin Nurindah
Editor: Claudia Noventa
Berikut isi lengkap pidato Jokowi dalam acara pembukaan Rapat Tahunan IMF-WB 2018 yang digelar di Bali:
"Bapak dan ibu sekalian sepuluh tahun yang lalu kita mengalami krisis finansial global, berkat langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal yang luar biasa yang membutuhkan keberanian politik yang besar bapak ibu para pembuat kebijakan telah menyelamatkan depresi global yang waktu itu sudah di depan mata.
Untuk itu, kami menyampaikan selamat atas kesukseksesan bapak ibu dalam mengatasi krisis finansial global tahun 2008.
Setelah 10 tahun berlalu kita tetap harus waspada terhadap meningkatnya resiko dan kesiap siagaan kita dalam mengalami ketidakpastian global, seperti yang disampaikan Ibu Christine Lagarde terhadap masalah yang membayangi perekonomian dunia.
Amerika Serikat menikmati pertumbuhan yang pesat namun di banyak negara mengalami pertumbuhan yang tidak stabil.
Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang, negara-negara yang tengah tumbuh juga mengalami tekanan pasar yang besar, dengan banyak masalah perekonomian dunia.
Sudah cukup bagi kita untuk mengatakan winter is coming.
Dalam beberapa dekade terakhir, negara ekonomi maju telah mendorong ekonomi negara berkembang untuk membuka diri dan ikut dalam perdagangan bebas dan keuangan terbuka.
Globalisasi dan keterbukaan ekonomi internasional ini telah memberikan banyak sekali keuntungan.
Baik negara maju maupun berkembang.
Berkat kepedulian dan bantuan dari negara ekonomi maju, negara berkembang mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan perekonomian dunia.
Namun akhir-akhir ini, hubungan antar negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones.
Balance of power dan aliansi negara ekonomi maju sepertinya tengah mengalami keretakan.
Lemahnya kerjasama dan koordinasi telah menyebabkan banyak masalah.
Seperti peningkatan harga minyak mentah dan kekacauan di pasar, mata uang yang dialami negara berkembang.