RSD, Bermula dari Lapak di Kos-kosan hingga Jadi Online Shop Fashion Ternama
Alumnus Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Sebelas Maret Solo ini tak menyangka usaha yang dirintisnya dari niat coba-coba itu ternyata berbuah manis.
Penulis: Astini Mega Sari
Editor: Claudia Noventa
Melihat modal sudah terkumpul, Adit, memutuskan menyewa kios di BTC sekitar tahun 2013.
Di sana, ia membuka dua tempat sekaligus yaitu Cla Hijab yang khusus mengurusi hijab, dan RSD yang berisi modest wear.
Saat menyewa kios di BTC penjualannya semakin meningkat.
Tak hanya di BTC, ia juga membuka RSD di salah satu kawasan Yogyakarta dan beberapa tempat lain.
Reseller juga terus bertambah hingga lebih dari 5.000 dari berbagai daerah di Indonesia.
Beberapa reseller-nya bahkan telah mengembangkan brand sendiri.
1.000 Hijab per Hari
Permintaan yang tinggi menuntutnya untuk meningkatkan produksi.
Pada 2014 lalu, Adit mulai membuka konveksi sendiri di kawasan Polokarto, Sukoharjo.
Ia memberdayakan warga sekitar Polokarto untuk menjahit produk Cla Hijab dan RSD.
“Dalam sehari ya kalau kerudung minimal membuat 1.000 pieces, sedangkan bajunya sekitar 100 pieces,” kata dia.
Adit yang juga punya lini usaha lain seperti peternakan dan sedang merintis penyewaan alat berat ini mengatakan yang paling penting adalah tim yang solid dan konsep yang matang.
Ia selalu menganggap karyawanya sebagai keluarga.
Tim bisnis miliknya yang terbagi atas tim produksi, tim kreatif, hingga penjualan selalu diajak duduk bersama kalau ada permasalahan.
Satu hal yang juga penting, kata Adit, konsep produk yang kuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/cla-hijab_20181012_145424.jpg)