Breaking News:

Gempa Bumi

Kisah Pieter, Hanya Bisa Peluk Anak saat Gempa dan Lekuefaksi Melanda Perumahan Petobo Palu

Rumahnya tidak ikut bergerak, tetapi saudara-saudaranya ia sangka masih tertimbun dalam lumpur.

Editor: Lailatun Niqmah
Capture YouTube
Pantauan Udara di Petobo Sulawesi Tengah 

TRIBUNWOW.COM - Sabtu (6/10) siang itu, Matahari begitu menyengat di Kota Palu. Seorang bapak bernama Pieter berusia 37 tahun tampak berdiri di bawah pohon dekat dengan perumahan Petobo yang hancur digulung tanah dan lumpur.

Rumahnya tidak ikut bergerak, tetapi saudara-saudaranya ia sangka masih tertimbun dalam lumpur. Tidak ada satupun yang bisa dihubungi.

Wajah lelahnya tak bisa ditutupi. Beberapa kali dia mengelap keringat dengan bajunya yang sudah empat hari tidak diganti.

"Saudara saya masih banyak yang di situ," ucapnya seraya menunjuk ke gundukan tanah yang sudah bercampur dengan material rumah.

Bau menyengat menyeruak ke dalam hidung, Pieter meludah guna menetralkan bau yang masuk. Keningnya mulai berkerut, tangan kirinya memegang kepala.

Ia mengaku pusing karena harus mencari rumah baru untuk ditinggali, meski kerusakan tidak parah, ada alasan lain. Kedua anaknya yang masih berada di pengungsian sempat mengatakan untuk tidak lagi pulang ke rumah.

"Anak saya tidak mau lagi pulang ke rumah," ucapnya.

Menkeu SBY, Chatib Basri Akui Pertemuan IMF-World Bank Diajukan Tahun 2014: Bukan untuk Tambah Utang

Pria asal Kupang itu menjelaskan, saat kejadian gempa dan mulai bergeraknya tanah dari perut bumi yang mendorong pemukiman di Perumahan Petobo, dia hanya bisa memeluk kedua anaknya.

Sembari menyaksikan kejadian tersebut selama satu setengah menit. Satu hal yang cukup untuk membuat anaknya trauma.

"Anak-anak tidak seaktif dulu lagi. Mereka sekarang cenderung diam," ungkapnya.

Saat ini, dia bersama istri harus tinggal di pengungsian yang berjarak dua kilometer dari rumah yang ia tinggali sebelumnya.

Harapannya agar mendapatkan akses bantuan lebih dekat. Namun, hal itu tidak terjadi.

Satu pekan sudah ia bersama enam kepala keluarga lainnya tidak mendapat bantuan dari relawan atau pemerintah setempat.

Bahan makanan yang sisa dari rumah, menjadi pilhan satu-satunya untuk menyambung hidup.

"Saya berharap supaya listrik dan air sudah bisa nyala. Jadi, kita bisa kembali ke rumah. Saya akan bawa anak-anak ke rumah saudara dulu. Kasihan juga kalau masih lihat seperti ini," ucapnya.

Bantah Anti Pemerintah, Fahri Hamzah Tunjukkan Teks Sumpahnya

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Tags:
Gempa dan tsunami PaluGempa PaluKisah Sedih
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved