Piala Dunia 2018
Fakta Penyusup Laga Final Piala Dunia 2018, dari Kronologi, Identitas, hingga Tuntutan Mereka
Laga final Piala Dunia 2018 antara Prancis dengan Kroasia sempat terhenti setelah insiden oleh beberapa penyusup yang masuk ke Stadion Luzhniki.
Penulis: Vintoko
Editor: Wulan Kurnia Putri
Pada tanggal 21 Februari 2012, empat anggota grup musik ini menggelar pertunjukan di depan Katedral Kristus Juru Selamat di Moskow, yang merupakan gereja Ortodoks terpenting di ibukota Moskow.
Pertunjukan ini mereka namakan 'Doa Punk' dan menunjukkan aksi mereka yang menentang kembalinya Vladimir Putin yang kala itu menjabat perdana menteri, untuk memegang jabatan presiden.
Para demonstran Pussy Riot yang ditahan bernama Petr Verzilov, Olga Kuracheva, Olga Pakhtusova dan Nika Nikulshina.
Verzilov adalah suami dari Nadezhda Tolokonnikova (28) yang dipenjara pada tahun 2012 karena 'hooliganisme' menyusul protes anti-Putin di katedral Moskow.
• Nikita Mirzani Ungkap Tentang Sosok Pria yang Layak untuk Dinanti Kehadirannya
3. Tuntutan
Dalam sebuah pernyataan, Pussy Riot menjelaskan bahwa seragam polisi mewakili penangkapan ilegal dan penahanan tahanan politik yang tidak mendasar.
Kelompok tersebut mengutip contoh dari Oleg Sentsov, yang menghadapi 20 tahun penjara karena dianggap melakukan 'konspirasi untuk melakukan tindakan teror' setelah memprotes Penggabungan Krimea ke Federasi Rusia pada tahun 2014.
Pussy Riot juga menuliskan sejumlah tuntutannya melalui postingan dalam akun media sosial mereka, seperti:
1. Bebaskan semua tahanan politik.
2. Stop memenjarakan orang hanya demi popularitas atau mendapatkan 'likes' di media sosial.
3. Hentikan penangkapan ilegal saat terjadi protes-protes politik.
4. Berikan kesempatan untuk terciptanya persaingan politik yang sehat di Rusia.
5. Jangan mengada-adakan kasus kriminal dan menempatkan orang di penjara tanpa alasan.
6. Ubahlah 'polisi duniawi' menjadi 'polisi surgawi'.