Tudingan Pelanggaran HAM Orde Baru, Tommy Soeharto: Harusnya Diungkap di Masa Awal Reformasi
Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto menanggapi tudingan kasus pelanggarahn Hak Azasi Manusia (HAM) di masa pemerintahan Soeharto.
Penulis: Woro Seto
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Melansir Kompas yang mengutip dari buku Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998, Kisah yang Tak Terungkap (2016) karya Rosidi Rizkiandi, ahli kedokteran forensik dr Abdul Mun'im Idries menyatakan hasil visum Hery Hertanto.
Ditemukan adanya serpihan peluru kaliber 5,56 mm di tubuhnya.
Peluru tersebut digunakan untuk senjata laras panjang jenis Styer atau SS-1.
Saat itu, pengguna senjata Styer adalah satuan Brimob atau Kopassus.
Hasil otopsi Tim Pencari Fakta ABRI juga mengungkap hasil yang sama. Hal senada juga didapat dari uji balistik di Forensic Technology Inc di Montreal, Kanada.
Kapolri saat itu, Jenderal Pol Dibyo Widodo membantah anak buahnya menggunakan peluru tajam.
Kapolda Metro Jaya Hamami Nata juga mengatakan polisi hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet, dan gas air mata.
Sampai saat ini misteri pelaku penembakan masih belum terkuak.
Namun, empat mahasiswa yang tewas, Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi) akan tetap dikenang. (TribunWow.com/Woro Seto)