Breaking News:

Sindir Sri Mulyani soal Pengelolaan Ekonomi, Rizal Ramli: Manipulatif, Apanya yang Hati-hati?

Mantan Menteri Koordinator (Menko) Ekonomi & Menteri Keuangan era Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rizal Ramli menanggapi nilai rupiah yang semakin anjlok

Penulis: Lailatun Niqmah
Editor: Fachri Sakti Nugroho
KOLASE/TRIBUNWOW.COM
Rizal Ramli dan Sri Mulyani 

TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Koordinator (Menko) Ekonomi dan Menteri Keuangan era Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rizal Ramli menanggapi nilai rupiah yang semakin terpuruk.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan melalui laman Twitter @RamliRizal yang diunggah pada Jumat (6/7/2018).

Rizal Ramli melontarkan sindirannya kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI).

Ternyata Nining Tidak Tenggelam, tapi Sengaja Menghilang untuk Menghindari Utang

Rizal Ramli mengatakan jika selama ini SMI mengatakan agar mengelola ekonomi secara hati-hati.

Ia pun menanyakan apa yang dimaksud 'hati-hati' oleh SMI, karena rupiah justru semakin terpuruk.

@RamliRizal: Menkeu SMI terus katakan kelola ekonomi dgn hati2 (prudent).

Manipulatif.

Apanya yg hati2 ? Resiko, credit default swap (CDS) Indonesia terus naik dari 80an Jan 2018 ke 136. Trade & Current Account, BOP defisit. Dan % dollar loan tinggi, itulah kenapa Rupiah terus melemah.

Postingan Rizal Ramli
Postingan Rizal Ramli (TWITTER)

Ani Yudhoyono Berulang Tahun ke-66, AHY dan Annisa Pohan Beri Ucapan Manis

Diberitakan Kontan, pada Jumat (6/7/2018) pagi, rupiah melemah dan berada pada angka Rp 14.416.

Angka tersebut merupakan level terlemah rupiah pada tahun ini.

Sebelumnya, Rizal Ramli juga sempat melontarkan kritik terhadap pelemahan rupiah.

Hal itu ia sampaikan melalui akun Instagramnya pada Selasa (3/7/2018), di mana saat itu rupiah sudah mendekati Rp 14.500.

Rizal Ramli menyebutkan jika pelemahan ini diakibatkan pemerintah yang dianggap hanya mengandalkan kebijakan moneter.

Sedangkan tidak ada terobosan di sektor riil dan tidak ada kebijakan inovatif terkait pengelolaan utang.

Rizal Ramli juga mengatakan apabila kenaikan suku bunga menambah masalah baru bagi Indonesia.

Berikut pernyataan Rizal Ramli:

"Catatan Dr. Rizal Ramli, 3 Juli 2018:

Rupiah terus merosot karena hanya mengandalkan kebijakan moneter.

Tidak ada terobosan di sektor riel dan tidak ada kebijakan prengelolaan utang yg inovatif.

Mengandalkan kenaikan suku bunga terus akan menambah masalah baru. Apalagi kalau akhirnya total kenaikan bunga setahun bisa 3-4%, dicicil-cicil atau sekaligus tahun 2018, pertumbuhan ekonomi akan tambah nyungsep ke bawah 4,5%, pertumbuhan kredit akan anjlok dibawah 8%, kredit macet dan default akan meningkat, daya beli tambah merosot.

Mas Jokowi sangat bagus sekali soal infrastruktur, tapi payah berat dalam pengelolaan makro-ekonomi.

Ekonomi bukannya ‘meroket’ tapi ‘nyungsep’, maaf.

Mohon maaf Mas Jokowi, Tim Ekonomi Mas ternyata benar-benar ndak mampu menyelesaikan masalah, bahkan mereka bagian dari masalah.

Persoalan utama mereka: school of thinking & kompetensi, leadership yg payah. Hati2, kami ingin Mas Jokowi bertahan sampai 2019," tulis Rizal Ramli.

Rupiah Tembus Rp 14.404, Fadli Zon Buka Data: Pemerintah Bohongi Dirinya Sendiri

Sementara itu, pelemahan rupiah membuat pihak pemerintah merapatkan barisan untuk mencari solusi.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Darmin mengungkapkan jika pihak pemerintah tengah mengupayakan perombakan terhadap neraca perdagangan.

Di antaranya adalah dengan membentuk satuan kerja khusus guna menyelesaikan permasalahan ekspor dan impor.

"Berikutnya kami akan bentuk task force merumuskan lebih persis apa saja yang dilakukan di bidang ekspor dan impor.

Sehingga dalam waktu tidak lama lagi kami ingin supaya neraca perdagangannya mulai defisit mengecil dan bisa kami rombak jadi positif," kata Darmin dikutip Kontan.

Darmin mengatakan, pembentukan satuan kerja ini menjadi penting karena tekanan terhadap rupiah yang didorong dari kenaikan bunga di Amerika Serikat (AS).

Karena apabila neraca dagang negatif, maka upiah sulit untuk menguat.

Selain itu, hal ini menjadi penting lantaran pemerintah ingin menjawab perkembangan yang sedang dan akan terjadi dalam perdagangan, yakni isu perang dagang dengan adanya kebijakan dari Amerika Serikat.

"Kalau transaksi berjalan, banyak negara yang negatif. Lihat saja Brasil, India, Afrika, tapi neraca perdagangan tidak banyak yang negatif," imbuh Darmin. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Rizal RamliSri Mulyani IndrawatiRupiah
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved