Dolar Capai Rp 14.425, Sejumlah Ekonom Angkat Bicara
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih melemah semenjak Kamis (28/6/2018).
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Fachri Sakti Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih melemah semenjak Kamis (28/6/2018).
Seperti dikutip Tribunwow, Dolar menyentuh level tertingginya pada pagi ini (3/7/2018) di Rp 14.425.
Atas anjloknya rupiah, sejumlah ekonom angkat bicara.
• Jadi Menteri Termuda Malaysia, Inilah Sosok Syedd Saddiq
Melalui akun Twitter-nya, Mantan Menteri Keuangan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri turut berkomentar.
Chatib Basri mentautkan berita yang menyatakan dolar setia di Rp 14.400, BI sebut ada tekanan eksternal yang sangat kuat.
Chatib Basri membalas tweet tersebut dengan mengatakan bukan hanya itu alasan dolar yang semakin menguat.
Hal tersebut juga dikarenakan harga minyak yang terus naik dan anjloknya Yuan akibat resiko trade war juga membuat situasi makin compilicated.
"Tak hanya itu, spt yg saya tweet beberapa hari lalu, harga minyak yg terus naik dan anjloknya Yuan akibat resiko trade war juga membuat situasi makin complicated," tulis Chatib Basri.

• Rustam Ibrahim: Suara untuk Jokowi Tidak Ada Kaitannya dengan PDIP
Tweet sebelumnya yang dimaksudkan Chatib adalah saat ia menuliskan mengenai harga minyak World Texas Intermediate (WTI) yang mencapai 74 dolar per barrel sehingga bisa menggerus alokasi fiskal yang produktif seperti infrastuktur, dll.
Berikut ini tweet dari Chatib Basri berkaitan dengan harga minyak WTI dan lemahnya rupiah atas dolar.
"Harga minyak WTI sudah $74 per barrel, ini bisa menggerus alokasi fiskal yg produktif spt infrastruktur dsb. Shg walau defisit fiskal meningkat, ia tdk memberikan daya dorong ekonomi. Disisi lain harga minyak yg tinggi akan mendorong defisit perdagangan migas
Jika tdk hati2, maka defisit akan meningkat disisi fiskal dan transaksi berjalan. Disisi lain, pengetatan moneter utk menjaga stabilitas nilai tukar, tdk akan mendorong pertumbuhan. Dengan kondisi ini, harapan kita hanya ekspor
Namun bila perang dagang terjadi maka, perekonomian global akan melambat, permintaan thd ekspor kita akan menurun. Artinya engine of growth dari ekspor juga akan sulit. Ini situasi yg tidak mudah.
Memang nantinya jika ekonomi global melambat, maka harga minyak akan menurun, namun keseimbangan baru bagi ekonomi dunia dan Indonesia akan berada pada tingkat yg lebih rendan. Sy kira issue ekonomi akan menjadi sangat krusial
Dalam kondisi spt ini, mungkin upaya kerjasama regional menjadi relevan. Inilah yg mulai dilakukan China skrg. Sy pernah tulis apa yg hrs dilakukan ASEAN Oktober 2017. Waktu itu trade war belum terjadi, tapi mulai kuatir akan proteksionismr Trump," tulis Chatib Basri.
• Pro Kontra Keluarga Korban KM Sinar Bangun Terkait Penghentian Pencarian Korban