Jokowi Temui Nyak Sandang, Warga Aceh yang Sumbangkan Hartanya untuk Beli Pesawat Pertama Indonesia
Nyak Sandang merupakan satu diantara sekian banyak warga Aceh yang menyumbangkan kekayaannya kepada negara untuk membeli pesawat pertama Indonesia.
Penulis: Fachri Sakti Nugroho
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Demi negara dan kepatuhan terhadap ulama
Jumat 9 Maret 2018 lalu, saat ditemui oleh Tribun di kediamannya, Nyak Sandang menceritakan bahwa pada keputusan keluarganya untuk menyumbangkan harta adalah semata-mata demi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dikisahkan olehnya, saat itu Ulama sekaligus Gubernur Aceh, Abu Daud Beureueh berorasi kepada warga Aceh bahwa Indonesia membutuhkan angkutan udara untuk mengimbangi Belanda yang ingin kembali menjajah negeri.
“Kami membeli obligasi ini semata-mata untuk mempertahankan Indonesia dari kemungkinan agresi kembali penjajah Belanda. Kami tidak mau dihukum berkelanjutan, karena tidak atau terlambat membayar belasteng (pajak) untuk penjajah,” kata Nyak Sandang.
Selain itu tindakan Nyak Sandang dan keluarganya tersebut juga didasari karena kepatuhan mereka terhadap ulama.
“Kami patuh pada ulama, karena kami tidak mau terus dijajah,” kata Nyak Sandang.
Replika Seulawah R-001

Jika Anda berkunjung ke Banda Aceh, singgahlah ke Lapangan Blang Padang.
Tepatnya berada di Kecamatan Baiturrahman, diapit oleh Masjid Raya Baiturrahman dan Museum Tsunami.
Di sana terdapat monumen pesawat Seulawah diabadikan.
Burung besi sumbangan masyarakat Aceh itu memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter.
Selain menjadi situs wisata sejarah, Monumen RI-001 Seulawah di Banda Aceh ini merupakan bukti cinta rakyat Aceh kepada Ibu Pertiwi yang tetap kokoh berdiri walau sempat diterjang tsunami.
Nama Seulawah sendiri memiliki arti gunung emas.
Nama tersebut merujuk pada nama gunung api di Kabupaten Aceh Besar. (*)