Bule Asal Perancis Mengabdikan Diri untuk Membantu Masyarakat Sumba: Jangan Bawa Mayat Saya Pulang
Andre Graff (kini 56 tahun) datang ke Pulau Sumba sebagai turis, sekitar delapan tahun lalu.
Editor: Claudia Noventa
Mula-mula biaya keluar dari kantong Andre sendiri, dari tabungan dan hasil persewaan rumahnya di Prancis.
Tapi lama-lama, sumur harus makin besar dan harus dipompa dengan mesin dan ditampung.
Biayanya bisa puluhan, bahkan ratusan juta.
Baca Juga: Minta Satu Pemain untuk Terus Diturunkan, Video Ini Tunjukan Ferguson Masih Bos di Manchester United
Malah untuk jenis yang bagus, dengan pompa berkualitas buatan Jerman yang digerakkan dengan tenaga Matahari, membangun rumah beratap untuk menyimpan bak penampungan, dan jalur distribusi melalui pipa-pipanya, biayanya bisa mencapai Rp700 juta.
Andre pun mengontak dan mendatangi para donatur, juga meminta bantuan peralatan dari perusahaan jasa air minum di Jakarta.
"Sampai sekarang sudah terbangun 29 sumur di seuruh Sumba," kata Andre.
Berkali-kali Nyaris Mati
Menetap di Sumba dalam pola dan cara hidup seperti orang setempat makin membuat Andre Graff seperti orang sana.
"Yang membedakan adalah saya punya kamera foto dan video, punya laptop untuk mengakses internet kalau sinyal lagi bagus. Selebihnya, saya makan dan hidup seperti orang sini," kata Andre dari rumah biiknya di Waru Wora, Lamboya, Sumba.
Ia makan dari hasil bumi setempat, bahkan rokok pun dari tembakau yang dia tanam sendiri dan dilinting pakai kulit jagung kering.
Ia begitu total hidup secara orang Sumba, bahkan mengalami sakit seperti orang setempat.
Malaria, demam berdarah, dsb berkali-kali.
Bahkan ia pernah dirawat di sebuah rumah sakit di Bali, namun keluar sebelum dinyatakan sembuh karena berpikir, "Wah, dengan biaya segitu, saya bisa bikin satu sumur," katanya.
Tapi Oktober lalu Andre mulai berpikir tentang asuransi.