5 Fakta Terkait Survei UBER Mengenai Pengendara Jakarta, No 1 Total Waktu yang Terbuang di Jalan!
Sepanjang Juli - Agustus 2017, Uber melakukan survei 9.000 responden berusia 18 hingga 65 tahun di sembilan kota besar di Asia.
Penulis: Dian Naren
Editor: Elga Maulina Putri
TRIBUNWOW.COM - Permasalahan kemacetan jakarta seolah tidak ada habisnya.
Meskipun telah banyak kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemacetan, tetap saja tidak terlalu berdampak dalam mengurai kemacetan jakarta.
Kemacetan di Jakarta sering kali terjadi pada hari-hari dan waktu tertentu, misalnya pada hari libur maupun di jam-jam berangkat dan pulang kerja.
Banyak faktor yang menyebabkan kemacetan jakarta itu muncul, satu di antaranya karena intensitas kendaraan yang melebihi kapasitas.
Terlebih lagi, jika kendaraan-kendaraan tersebut tidak berpenumpang penuh.
Memang tak dapat dipungkiri ada mobil yang hanya memiliki muatan satu atau dua orang saja.
Balajaer Sebut Ayu Ting Ting dan Asyifa Mirip Kylie dan Kendall Jenner, Netizen Ingin Berkata Kasar!
Sepanjang Juli - Agustus 2017, Uber melakukan survei 9.000 responden berusia 18 hingga 65 tahun di sembilan kota besar di Asia, satu di antaranya Jakarta.
Berikut hasil surveinya:
1. Pemilik mobil di Jakarta menghabiskan 68 menit terjebak macet dan 21 menit mencari tempat parkir setiap harinya, atau setara 22 hari pertahun.
Hal ini sangat berdampak kepada aktivitas sehari-hari.
Terlebih jika kemacetan tersebut tidak bisa diprediksi dan membuat terlambat.
2. Untuk milenial, sebesar 50 persen responden berusia 18 hingga 34 tahun menyatakan tidak tertarik untuk memiliki mobil. Sebanyak 61 persen generasi muda di Asia menyukai skema berbagi tumpangan.
Untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, pemilik mobil di Jakarta terbuka terhadap solusi alternatif seperti skema berbagi tumpangan.
Skema berbagi tumpangan merupakan metode dari penggabungan antara transportasi online dengan transportasi massal.
Mereka akan memulai perjalanan dari rumah menggunakan transportasi online untuk ke halte atau stasiun terdekat. Kemudian dari halte atau stasiun tujuan, naik transportasi online lagi.
"Yang kami lihat pertumbuhan (penggunaan transportasi online dan transportasi massal) cukup pesat, banyak orang yang mulai atau mengakhiri dalam 200 meter dari stasiun (KRL) termasuk (halte) transjakarta," kata John Colombo, Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia, Rabu (2/11/2017), seperti dikutip dari Kompas.
Alexis Ditutup, Terkuak 4 dari 5 Spa di Jakarta Berikan Layanan Petik Mangga dan Eksekusi
3. 71 persen warga jakarta yang belum memiliki mobil, masih memiliki keinginan untuk membeli mobil. Namun, mereka tetap terbuka untuk opsi tidak memiliki mobil.
4. Dari 29 persen warga jakarta yang memiliki mobil, sepertiganya mempertimbangkan untuk tidak lagi memiliki mobil.
5. Dari 29 persen di atas, jumlahnya diperkirakan akan meningkat hingga 49 persen jika kondisi terkait parkiran tidak kunjung membaik. ( TribunWow.com/Dian Naren)