Suara Perempuan: 7 Alasan Mengapa Kami Sulit Suarakan Perlawanan Terhadap Pelecehan Seksual
Tagar #metoo yang sempat trending beberapa hari yang lalu mengungkap kebisuan para perempuan yang pernah mengalami pelecehan.
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
Yang kami punya hanyalah pengalaman menyedihkan dan amarah.
Dan sayangnya, terkadang pengakuan kami ini tidak berarti apa-apa tanpa bukti.
Keenam, sejujurnya kami tidak ingin disalahkan dalam hal ini.
Ketika kami buka suara soal pelecehan seksual, maka kalian cenderung menyalahkan kami.
Menanyakan pakaian apa yang kami kenakan, apakah kami mabuk, apakah kami menggoda si pelaku, atau yang paling parah apakah ada yang salah dengan riwayat seksual kami?
Ketujuh, inilah cara kami untuk meghormati diri sendiri.
Mungkin alasan yang paling menyedihkan mengapa kami tidak berbicara adalah karena kami malu.
Malu akan diri sendiri.
Sebab kami tidak melakukan apapun yang salah, namun pelecehan tetap saja terjadi!
Bagaimana, sudahkah kalian mengerti mengapa kami sulit melawan pelecehan dan kekerasan seksual?
Kami berusaha menanganinya secaea pribadi, tapi sejujurnya kami membutuhkan simpati dan empati dari kalian.
Terimakasih karena sudah peduli untuk membaca surat ini.
Semoga isu pelecehan seksual bukan saja menjadi kekhawatiran kaum perempuan saja, namun menjadi keprihatinan semua orang.
Salam dengan penuh ketulusan,
Perempuan
(Intisari/Tika Anggreni Purba)
Berita ini telah dimuat di Intisari dengan judul: Suara Perempuan: Inilah 7 Alasan Kami Tak Bisa Suarakan Perlawanan Soal Pelecehan dengan Lantang!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi_20171020_100750.jpg)