Suara Perempuan: 7 Alasan Mengapa Kami Sulit Suarakan Perlawanan Terhadap Pelecehan Seksual
Tagar #metoo yang sempat trending beberapa hari yang lalu mengungkap kebisuan para perempuan yang pernah mengalami pelecehan.
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
Jika kami cukup kuat membela diri, maka label “korban pelecehan seksual” akan terus melekat dalam diri kami.
Pura-pura Buta, Penghasilan per Hari Pengemis Ini Bikin Netizen Syok: Lebih Besar dari Manajer!
Jika tuduhan kami terlihat tidak berarti, maka orang-orang akan menganggap kami sebagai perempuan yang suka cari perhatian, delusional, penipu, terlalu sensitif, cengeng, dan lemah.
Kedua, ketika kami membicarakannya risiko besar sudah menanti, lebih dari pada manfaat yang kami terima setelah itu.
Jika kami melaporkannya, maka pemeriksaan dan penyelikan akan memakan waktu yang lama.
Juga, di saat itu kami sebagai korban akan menanggung malu dalam pekerjaan, keluarga, dan lingkungan sosial.
Kami juga berulang kali harus berurusan dengan si pelaku diiringi rasa takut peristiwa itu akan terjadi kembali.
Ketiga, kami tidak memiliki banyak orang di pihak kami.
Kami berharap agar identitas kami tidak diketahui publik sebagai korban pelecehan seksual.
Apalagi tidak banyak orang yang berani mendukung kami untuk melawan perbuatan jahat pelaku pelecehan itu.
Keempat, tidak ada hukuman berat untuk pelaku.
Walau kami bersuara dengan lantang, kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada perempuan-perempuan lainnya di seluruh dunia yang mengalami hal menyedihkan ini.
Tentu banyak yang mengalaminya, tapi kami tak kuasa untuk melawan.
Kelima, kami tidak berharap kalian mempercayai kami, tapi memang kalian tidak mudah mempercayai pengakuan kami.
Karena apa? Karena kami tidak memiliki bukti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi_20171020_100750.jpg)