Perlukah Musuh Tahu Kalau Kita Telah Memaafkannya?
Alkisah, Buddha sedang bersama murid-muridnya ketika seorang pria berjalan dengan tatapan marah.
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
Ia hanya tersenyum. Dan itu cukup mengejutkan orang yang marah.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, pria tersebut bertemu seseorang yang hanya tersenyum saat ia meludahi wajahnya.
Pria pengusaha itu tidak bisa tidur semalaman dan seluruh tubuhnya seperti mengalami transformasi. Ia menggigil, gemetar.
Ia merasa seolah seluruh dunia telah berubah terbalik.
Keesokan harinya, pria itu pergi menemui dan mencium kaki Buddha, serta berkata, “Mohon maafkan saya! Saya tidak tahu apa yang saya lakukan.”
Buddha menjawab, “Saya tidak bisa. Maaf!”
Semua orang termasuk murid-murid Buddha terperangah.
Buddha kemudian menjelaskan alasan pernyataannya.
Katanya, “Mengapa saya harus memaafkan Anda, bila Anda tidak melakukan kesalahan apapun?”
Pengusaha itu tampak terkejut dan ia memberi tahu Buddha bahwa ialah yang telah meludahinya.
Buddha berkata, “Oh! Orang itu tidak ada sekarang. Jika saya pernah bertemu dengan orang yang Anda ajak bicara, saya akan memberitahunya untuk memaafkan Anda. Bagi orang yang berada di sini, Anda tidak melakukan kesalahan.”
Itulah belas kasih yang nyata.
Belas kasih tidak mengatakan, saya memaafkan Anda.
Memaafkan harus sedemikian rupa sehingga orang yang dimaafkan, tidak tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.
Mereka bahkan seharusnya tidak merasa bersalah atas kesalahan mereka. (Intisari/K. Tatik Wardayati)
Berita ini telah dimuat di Intisari dengan judul: Ketika Kita Memaafkan Seseorang Tanpa si Pelaku Tahu Kita Telah Mamaafkannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/banyak-alasan-untuk-memaafkan-termasuk-meneladani-6-kisah-ini_20170727_073918.jpg)