Breaking News:

Teroris 'Lone Wolf' Marak, Ternyata Ini Motivasinya!

Berbagai penyerangan terhadap anggota kepolisian belakangan ini, mempopulerkan istilah teroris “lone wolf”atau teroris yang bekerja sendiri.

Editor: Galih Pangestu Jati
HO/Polda Sumut/Dedy Kurniawan/HO/Polda Sumut/Mustaqim Indra Jaya
Dua orang terduga terotis menyerang pos II penjagaan pintu keluar Markas Polad Sumatera Utara di Jalan Sisingamangaraja, Minggu (25/6/2017) dini hari. Penyerangan beberapa jam menjelang salat Id di Medan dan sekitarnya. Syawaluddin Pakpahan mengalami luka tembak personel polisi. Seorang terduga lainnya yang belum teridentifikasi (foto di atas) tewas ditembak polisi. 

TRIBUNWOW.COM - Berbagai penyerangan terhadap anggota kepolisian belakangan ini, mempopulerkan istilah teroris “lone wolf”atau teroris yang bekerja sendiri.

Orang-orang itu seolah beraksi sendiri dengan membuat teror atau menyerang sasarannya.

Sepertinya, tanpa terkait dengan organisasi manapun.

Di Indonesia, beberapa kejadian di antaranya penyerangan polisi di Mapolda Sumatera Utara di Medan, penyerangan polisi di Masjid Faletehan, Jakarta Selatan, atau ditemukannya bom panci rakitan di Bandung.

Menurut Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Polri, Brigjen. Rikwanto, teroris “lone wolf” ini sesungguhnya tidak bekerja sendiri.

Setelah didalami, mereka ternyata punya kelompok atau komunitas juga di luar.

“Seperti perakit bom panci yang meledak di Bandung, komunitasnya 20 orang,” tutur Rikwanto, dalam wawancara dengan Sapa Pagi, Kompas TV, Selasa (11/7).

Semula mereka berpaham Negara Islam Indonesia, tapi berkembang setelah membaca internet ke Jamaah Ansharut Daulah.

“Mereka sudah latihan fisik dan siap meledakkan di Bandung,” kata Rikwanto.

Sementara itu, menurut pengamat terorisme, Nasir Abbas, awalnya teroris “lone wolf” itu merekrut diri sendiri.

Perubahan Drastis Pelaku Bom Panci Bandung: Dulu Edarkan Narkoba Kini Sedang Belajar Taubat

Lalu merasa terpanggil karena merasa memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.

Ada semacam ajakan dari situs-situs radikal: kalau bukan Anda, siapa lagi yang mau melakukan?  

Teroris ini biasanya mencari informasi radikalisme di media sosial.

Di sana, mereka akan bertemu dengan orang-orang lain yang punya pemikiran sama.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Tags:
Brigjen Pol RikwantoIntisariJakarta Selatan
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved