3 Alasan Gerindra Enggan Usung Ridwan Kamil dalam Pilkada Jabar, yang Terakhir Makjleb!
Satu nama yang santer disebut akan maju dalam Pilkada Jawa Barat adalah Ridwan Kamil, tapi sayangnya Emil tidak mendapat dukungan dari Partai Gerindra
Penulis: Dhika Intan Nurrofi Atmaja
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
TRIBUNWOW.COM - Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat bakal dilangsungkan pada 2018 mendatang.
Sejumlah nama sudah digadang-gadang akan maju dalam pesta demokrasi tersebut.
Satu nama yang juga santer disebut bakal maju adalah Ridwan Kamil.
Gemasnya! Tak Hanya Jadi Wali Kota, Ridwan Kamil Ternyata Juga Seorang Aktor
Wali Kota Bandung itu saat ini tengah berkonsolidasi dengan sejumlah pihak termasuk partai politik untuk menggalang dukungan.
Sayang, pria yang kerap disapa Kang Emil ini rupanya tak akan dijagokan oleh Partai Gerinda.
Parpol yang diketuai oleh Prabowo Subianto itu memiliki beberapa alasan terkait hal ini.
Pengurus Gerindra Duren Sawit Membelot Dukung Ahok-Djarot, Siap Bawa 6000 Suara
Dihimpun Tribunwow.com, berikut alasan Gerindra yang enggan memberikan dukungan politik untuk pria yang juga berprofesi sebagai arsitek tersebut:
1. Gerindra nilai Emil mirip Ahok
Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mujahid menilai Emil kurang beretika terkait pencalonan dirinya sebagai calon Gubernur Jabar.
Pasalnya, Partai Gerindra sudah memberikan dukungan saat Emil maju dalam pemilihan Wali Kota Bandung, 2013 silam.
Sementara beberapa waktu lalu, Emil seolah menerima deklarasi Partai Nasdem yang akan menjagokannya dalam pilgub mendatang.
Padahal, Nasdem dan Gerindra memiliki prinsip yang berbeda.
Nasdem merupakan partai pendukung pemerintah dan telah menyatakan dukungan pencapresan Jokowi pada Pemilu 2019.
"Gerindra amat sangat baik ke Ridwan Kamil, kami tidak pernah menganggu, merongrong dia. Jadi sangat aneh dia meninggalkan Gerindra," ujar Sodik di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/4/2017), sebagaimana dikutip dari KOMPAS.com.
"Itu adalah suatu pola yang tidak bagus dalam berpolitik, dalam etika pilkada," kata dia.
Lebih lanjut, Sodik pun menilai perilaku Emil ini sama seperti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pilkada DKI Jakarta.
Sebagaimana diketahui, Ahok juga didukung Gerindra hingga akhirnya ia hengkang.
"Kami berpengalaman di kasus Ahok di Jakarta, terus RK. Jadi begitu RK seperti ini, kami ingin fokus dari dalam untuk pencalonan dan akan mencari kombinasi yang baik," ucapnya.
2. Perbedaan visi antara Gerindra dan Emil
Di sisi lain, politisi Partai Gerindra, Fadli Zon menyatakan pihaknya tidak memiliki masalah pribadi dengan Ridwan Kamil.
Wakil Ketua DPR RI itu pun menyatakan ada perbedaan visi antara Gerindra dan Emil yang tak bisa disatukan.
"Kami tidak menolak secara pribadi, hanya ada perbedaan visi dan kepentingan dengan Kang Emil," katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/4/2017), sebagaimana dikutip dari Tribunnews.

Senada dengan Sodik, Fadli Zon juga menyatakan perbedaan visi terkait dukungan dalam pilpres pun berpengaruh besar.
Hal itu terkait kepastian Emil didukung Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan akan mendukung Presiden Joko Widodo di 2019.
"Sedangkan kami jelas mendukung Pak Prabowo Subianto di 2019. Jelas ada perbedaan kepentingan di sini," ujar Fadli Zon.
3. Gerindra menilai Emil tak konsisten
Sodik Mudjahid menyatakan Gerindra selalu memberikan dukungan untuk Emil selama ia menjabat Wali Kota Bandung.
Sayang, menurut pernyataan Sodik, hal baik tersebut tak berbalik untuk partai.
Emil justru meninggalkan Gerindra.
"Itu kan masalahnya, dia yang bermasalah. Silakan cek ke semua. Gerindra amat sangat baik ke RK (Ridwan Kamil), kami tidak pernah menganggu, merongrong RK. Jadi sangat aneh dia meninggalkan Gerindra. Insya Allah Gerindra ada kader lain. Tapi kan itu kan etika yang kurang bagus. Dan sekali lagi, kami tidak pernah bermasalah dengan RK," kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mudjahid di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (26/4/2017).
Sodik pun menyoroti sikap tak konsisten Emil yang mirip dengan Ahok.

"Anak nakal ya kira-kira gitu. Saya kira semua lah, toh Ahok kan kembali. Ketika dia percaya diri independen, toh ke partai juga."
"Pelajaran buat semua, bukan untuk Gerindra saja. Memang ada jalur independen. Tapi kalau mau independen dari awal dong. Jangan orang membangun 'independen' hanya untuk tawar menawar dengan parpol," kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR itu. (Tribunwow.com/Dhika Intan)