Breaking News:

Jauh dari Ingar-Bingar Dunia, Inilah Makna dari Hari Raya Nyepi!

Untuk masyarakat yang tidak merayakan hari raya besar agama Hindu ini, tentu jarang mengetahui apa makna dari perayaan Hari Raya Nyepi ini.

Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Galih Pangestu Jati
KOMPAS.com/SRI LESTARI
Pecalang sedang bertugas saat Nyepi di Jalan Raya Tuban, Badung, Bali, Rabu (8/3/2016) 

TRIBUNWOW.COM - Seluruh umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Selasa (28/3/2017).

Untuk masyarakat yang tidak merayakan hari raya besar agama Hindu ini, tentu jarang mengetahui apa makna dari perayaan Hari Raya Nyepi ini.

Namun, jika kita mengetahui dan mempelajari hari raya ini, akan banyak hal baik yang bisa dipetik dan menambah pengetahuan kita.

Baca: Meski Menyeramkan, Ternyata Ogoh-Ogoh Punya Makna yang Dahsyat! Cari Tahu, Yuk!

Selain itu, tentunya di balik 'kegiatan' menyepi, menjauhkan diri dari ingar-bingar mereka, ada makna dan filosofi yang tersimpan di baliknya.

Yuk, ketahui lebih banyak soal Hari Raya Nyepi yang dirayakan oleh umat Hindu!

Dikutip dari Wikipedia, Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 masehi.

Berbeda seperti perayaan Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan cara menyepi.

Semua aktivitas sehari-hari ditiadakan, termasuk pelayanan umum.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu.

Baca: Dicari Jomblo!: Penolong buat Kamu yang sedang Nelangsa Cari Jodoh!

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan penyucian dengan melakukan Upacara Melasti.

Perayaan yang mengarak segala sarana sembahyang yang ada di Pura ke pantai atau danau.

Hal tersebut bermaksud bahwa laut atau danau adalah sumber air suci dan bisa menyucikan kotoran di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat.

Buta Yadnya itu masing-masing bernama Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan merupakan penyucian Buta Kala dan segala kekotoran diharapkan sirna semuar.

Baca: Selamat! Liam One Direction Kedatangan Anggota Keluarga Baru, Lihat Fotonya!

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar nasi tawur, mengelilingi rumah dengan obor, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh.

Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar.

Tujuannya sama, yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Baca: Waduh! Bukan Cuma Diabetes, Konsumsi Gula Berlebih Ternyata Juga Bikin Pelupa

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan tentang perayaan umat Hindu ini.

Ia mengatakan bahwa Hari Raya Nyepi mengajarkan umatnya untuk mengutamakan hidup dalam suasana damai yang hening dan harmonis.

Melalui Nyepi, manusia mengevaluasi kembali relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan penciptanya, serta manusia dengan alam atau dikenal dengan Trihita Karan, dengan berkontemplasi dan menjalani berbagai pantangan agar mengalami 'pemutihan' diri.

Dalam hening, manusia mendapat kesempatan untuk melihat kembali kehidupan masa lalu untuk menyongsong masa depan.

Saat Nyepi, manusia menghentikan segala aktivitas rutin sehari-hari.

Baca: Ngeri! Makeup Artis Nyaris Meninggal Karena Cat Rambut

Alam kemudian bebas bergerak sesuai rotasinya tanpa campur tangan manusia.

Alam akan berotasi dan berproses tanpa campur tangan manusia saat Nyepi, tidak dipaksakan sesuai keinginan manusia.

Alam dikembalikan pada kemurnian dan harmonisasi yang alami

Sudiana juga mengatakan saat Nyepi, manusia dan semesta sama-sama mencari keseimbangan dan memperbaikinya diri dalam relasinya, sebab jika manusia rusak alam pasti rusak, sebaliknya jika alam rusak pasti manusianya juga rusak.

Di sanalah letak keseimbangannya,

Saat menjalani Nyepi, lanjut dia, umat Hindu memiliki empat pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Biasa disebut dengan Catur (Brata) Penyepian.

Baca: Meski Menyeramkan, Ternyata Ogoh-Ogoh Punya Makna yang Dahsyat! Cari Tahu, Yuk!

Berikut empat pantangan tersebut yang merupakan filosofi dari keheningan yang dilakukan.

1. Tidak boleh menyalakan api (amati Geni)

Api adalah simbol hawa nafsu.

Pada hari Nyepi, umat Hindu berkontemplasi tanpa menyalakan api atau adanya cahaya untuk mengendalikan hawa nafsu yang disimbolkan dengan api.

2. Tidak bekerja (amati Karya)

Umat Hindu kembali melakukan evaluasi dalam suasana hening tentang apa yang sudah dikerjakan, apakah sudah sesuai dengan kemampuan dan perhitungan yang matang.

Manusia pada dasarnya perlu istirahat dan tidak bekerja secara berlebihan.

Melalui amati Karya ini, manusia dapat melihat ke dalam untuk memutuskan apa yang harus dikerjakan di masa yang akan datang sesuai kemampuan dan perhitungan yang tepat.

3. Tidak bersenang-senang (amati Lelanguan)

Pada hari Nyepi, manusia tidak mencari kesenangan atau hiburan yang bersifat duniawi.

Manusia mengendalikan diri dengan memberikan hiburan batin.

Nafsu untuk berfoya-foya atau dikendalikan kesenangan duniawi.

4. Tidak bepergian (amati Lelungan)

Tubuh perlu diistirahatkan.

Sambil melihat selama tahun yang lewat sudah sukses atau tidak.

Apakah sesuai harapan atau tidak sehingga bisa memperbaiki diri di tahun yang baru.

"Empat hal itu intinya melihat ke dalam menggunakan mata batin apa yang telah terjadi. Bagaimana relasi kita selama ini dengan sesama, Tuhan dan alam semesta," kata ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana. (Wikipedia.org/Kompas.com/TribunWow.com/Natalia Bulan Retno Palupi)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
NyepiHinduBali
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved