Breaking News:

Bikin Merinding! Kisah Perjuangan Ibu yang Menggantikan Kaki sang Anak Demi Mengejar Cita-cita

Kata-kata penuh kasih sayang ini terlontar lembut dari Tatik Sukilah (47) sembari menggendong putranya, Erry Susilo (16).

Editor: Wulan Kurnia Putri
KOMPAS.com / Wijaya Kusuma
Tatik Sukilah usai menjemput Erry Susilo pulanh sekolah dengan menggunakan ojek. Antar jemput berangkat dan pulang Tatik harus membayar Rp 25.000. 

Jumlah itu diakuinya sangat berat sebab penghasilannya dari membuat serta menjual roti tidak menentu.

Sementara ia masih harus membayar uang kontrakan sebesar Rp 500.000 per bulan.

Erry Susilo (15) penderita lumpuh Layu
Erry Susilo (15) penderita lumpuh Layu (TRIBUNJOGJA.COM/Cahyo Nugroho)

Belum lagi biaya untuk hidup sehari-hari.

"Ya, harus utang kanan-kiri kalau pas tidak ada uang. Soalnya pesanan roti atau snack tidak pasti ada. Tetapi ya ada saja rezeki itu datang, saya yakin Allah pasti memberi jalan," kata Tatik.

Sering kali tatkala tidak mempunyai uang untuk membayar ojek, Tatik menggendong putranya jalan kaki ke SMA Negeri 11.

Kurang lebih satu jam ia berjalan melewati trotoar.

Baca: Ironis Jika Mengingat Ini! Suasana Ruang Ganti PSG Usai Kalah dari Barcelona Memekakkan Telinga

Di usianya yang tidak muda lagi, Tatik harus beberapa kali berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat sambil mengatur napas.

"Di jalan, yang bikin hati saya 'greeeg' saat Erry bertanya, 'Ibu capek? Ibu malu enggak gendong Erry? Ibu semangat, ya," tutur Tatik sambil memegang dada.

"Saya jawab, 'Ibu tidak capek gendong Erry, tidak malu. Ibu selalu ada untuk Erry'," ucapnya mengulang jawaban ke Erry.

Tidak hanya sekali-dua kali Erry menanyakan itu kepada ibunya.

Remaja kelahiran 14 Januari 2000 ini memang sangat menyayangi ibunya.

Ketika ibunya sakit, Erry tidak masuk sekolah.

Tidak ada yang menggantikan Tatik untuk membawa Erry ke sekolah.

Meski dalam kondisi keterbatasan fisik, Erry tidak pernah sekalipun mengeluh, merasa malu atau putus asa. Semangat belajar dan sekolahnya tinggi, nilai-nilainya pun tidak kalah dengan teman-temannya.

"Alhamdulilah, selama ini Erry selalu diterima di sekolah negeri. Rata-rata nilainya bagus, tulisannya juga bagus," kata Tatik.

Selain itu, guru dan teman-temanya di sekolah selalu memberikan dukungan kepada Erry.

Pengelola sekolah memperbolehkan motor yang menjemput Erry masuk hingga depan kelas.

Selama mengikuti pelajaran di sekolah, Erry duduk di kursi roda lengkap dengan meja.

Baca: Isi Liburan dengan Wisata Alam, Dua Pendaki Gunung Mekongga Terserang Hipotermia

Kursi roda itu bantuan dari seorang anggota TNI.

Teman-teman Erry sering menyuapinya makanan atau minum pada saat istirahat.

Mereka juga membantu mengambilkan buku atau hal-hal lain yang diperlukan Erry.

Ketika belajar di rumah, Tattik menggeser meja tamu kecil dan mendudukkan Erry di depan lemari sebagai sandaran. Kedua lengan Erry diletakkannya di atas meja dekat dengan buku yang ingin dipelajari.

"Erry bilang mbok beli meja daripada gesar-geser, tapi saya belum punya uang. Erry minta ganti kacamata saja saya belum bisa belikan, semoga besok ada rezeki," kata Tatik.

Satu hal yang menghantui pikirannya adalah jangan sampai ia meninggal dunia sebelum melihat anaknya sukses.

Tatik merasa takut jika tidak ada yang merawat Erry sepeninggalnya.

"Setiap kali shalat, saya minta kepada Allah agar Erry sukses dulu. Saya baru lega kalau sudah sukses dan punya istri yang merawat, itu yang saya pikirkan sampai saat ini," kata Tatik.

Bagi Tatik, jerih payah dan perjuangannya selama ini tidak lain adalah demi mengantarkan putranya meraih cita-cita. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat Erry menjadi orang sukses.

Ingin kuliah

Kini Erry menempuh studi di kelas III IPS SMAN 11 Kota Yogyakarta.

Kondisinya menjadi pelecut semangat untuk lebih baik dibandingkan orang lain.

"Menerima keadaan dan semangat menjalani hidup.

Saya tidak pernah sekalipun malu atau minder," kata Erry.

Erry mengungkapkan, selama ini tidak pernah kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah maupun mengerjakan tugas-tugas. Di sekolah, Erry merupakan siswa yang ramah dan ceria.

"Tidak ada yang mengejek, teman-teman baik semua.

Mereka selalu memberikan semangat," ujarnya.

Baca: Lama Tak Muncul di Layar Kaca Istri Bambang Trihatmodjo Tetap Seksi dan Memikat

Remaja kelahiran Purworejo tersebut mempunyai hobi mendesain web ataupun blog. Ia juga mahir dalam membuat desain logo.

Setelah lulus SMA nanti, ingin melanjutkan pendidikannya.

Targetnya satu, ia ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Semoga besok tercapai. Tapi masih bingung mau ambil Komunikasi atau Ekonomi," ujarnya.

Satu hal yang dipegangnya adalah terus berusaha meraih cita-cita dan menjadi sukses. Bekerja dan membahagiakan ibunya yang selama ini telah berkorban sangat banyak untuknya. (kompas.com / Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma)

Sumber: Kompas.com
Tags:
YogyakartaKecamatan DanurejanWonosari
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved