Terkini Nasional
Ikhtiar Berkelanjutan BPKH Wujudkan Mimpi semua Bisa Haji Tanpa Terkecuali
Bukti ikhtiar BPKH beri pelayanan terbaik untuk jemaah haji demi kenyamanan dan ketenangan.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
TRIBUNWOW.COM - "Sreg, sreg, sreg," begitu bunyi pacul yang tengah dibersihkan untuk menggali tanah makam.
"Dug dug dug," suara khas dari linggis yang digunakan untuk menambah dalam galian tanah makam.
Dua bunyi suara itu lah yang senantiasa di dengar oleh tukang gali kubur asal Dusun Bayan, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Temon Kartosoemito.
Cuaca panas dan dingin tak menentu selimuti tubuh rentanya.
Bahkan, hujan pun tak jarang ikut basahi tubuhnya.
Terkadang, jika cuaca lagi bersahabat, suasana sunyi, rindang dan udara segar khas area pemakaman turut menemani.
Begitulah gambaran Temon Kartosoemito saat menunaikan tugas dan panggilan kemanusiaan sebagai tukang gali kubur.
Namun siapa sangka, kerja yang tak tentu itu, kini berhasil ikut andil mengantarkannya pergi ke tanah suci.
Akan tetapi, di balik itu semua, tepat 1 tahun sebelum keberangkatan, Temon dan keluarganya mendapatkan cobaan yang tak terbayang sebelumnya.
Istri sekaligus ibu tercinta dari empat anaknya harus meninggalkan keluarga setelah berjuang melawan penyakit stroke yang diderita.
Tangis harus tak kuasa ditahan ketika Temon dan putri sulungnya, Triyem menceritakan sosok istri sekaligus ibu panutan mereka.
Mulanya, proses haji Temon dan sang istri berjalan lancar.
Sebelum semuanya berubah ketika sang istri wafat dan kuota haji yang sebelumnya terdaftar atas namanya digantikan oleh Triyem.
Ikhtiar BPKH dan Instansi Pemerintahan Terkait untuk Bantu Jemaah Haji
Dalam ceritanya, Triyem mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi terutama saat mengurus berkas administrasi pindah nama.
Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait dengan sigap turut berikan pelayanan terbaiknya.
“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.
Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.
“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.
Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.
“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.
Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.
Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.
“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.
Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.
Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.
“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”
“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.
Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.
“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/BPKH-RI-2.jpg)