Breaking News:

Terkini Nasional

Merdeka Masa Depan: Negara Rangkul Pekerja yang Alami Ketidakadilan hingga Berdikari

Kisah perjuangan inspiratif pegawai yang alami ketidakadilan hingga bangkit karena andil besar negara melalui BPJS Ketenagakerjaan.

|
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
TribunWow.com/Adi Manggala Saputro
Potret Kantin Ibun Zio yang berada di SMP N 16 Surakarta. Kisah perjuangan inspiratif pegawai yang alami ketidakadilan hingga bangkit karena andil besar negara melalui BPJS Ketenagakerjaan. 

TRIBUNWOW.COM – “Bu regane pironan iki (bu harganya berapaan ini-red), aku es teh siji (aku es the satu),” begitu suara yang hampir setiap harinya terdengar di satu di antara kantin yang berada di SMP N 16 Surakarta.

“Tet tet, waktu istirahat telah tiba,” begitu bunyi yang dinanti tak hanya untuk siswa-siswi melainkan para penjaja makanan di kantin SMPN 16 Surakarta.

Bunyi itu setiap harinya terdengar di pukul 10 pagi.

“Gruduk, gruduk, gruduk, ayo ngantin cah (ayo ke kantin),” bunyi suara para siswa yang jadi penanda bagi para penjaja makanan di kantin untuk memulai menjemput rezekinya di pagi itu.

Seketika saat itu, kantin yang mulanya hanya terlihat para penjaja makanan berubah menjadi keriuhan para siswa dan siswi yang sudah merasa lapar.

Basement pun penuh seketika dengan riuh hiruk pikuk siswa-siswi yang memanggil para penjaja makanan di kantin.

Mulai dari menanyakan harga, tanya jajanan hingga melakukan pembayaran.

Satu di antara kantin yang saat itu nampak kerepotan menghadapi para siswa-siswi yakni bernama Kantin Ibun Zio. 

Warung yang tepatnya berada di posisi paling tengah dan berbeda dari dua kantin di sebelahnya.

Ya, penjaja sekaligus pemilik kantin Ibun Zio yakni pasangan suami istri.

 Keduanya nampak saling berbagi tugas dengan dibantu oleh satu di antara pegawainya yang sudah berusia paruh baya.

Sang istri dan pekerjanya itu nampak dengan sabar meladeni keinginan para siswa-siswi yang mendatangi kantinnya.

Sementara sang suami terlihat telaten membuatkan es pesanan siswa-siswi satu per satu di salah satu meja di sudut kantin Ibun Zio.

 Ya, pasangan suami istri itu tak lain ialah Tri Purwanto dan Tri Wulan Suci.

 Pasangan suami istri yang sudah merintis usaha kantin sejak 2 tahun lalu tepatnya pada 2023.

 Namun siapa sangka, kantin yang saat ini ramai dan sukses memiliki cerita pelik perjuangan inspiratif Tri Purwanto dan Tri Wulan Suci.

 “Baru jalan 2 tahun. Tapi sebelumnya kan suami saya kerja, jadi saya jualan di rumah. Jualan makanan di rumah sama nitip jajanan di kantin-kantin, awalnya itu,” jelas Tri Wulan saat ditemui TribunWow.com pada Rabu (16/11/2025).

Potret Kantin Ibun Zio yang berada di SMP N 16 Surakarta.
Potret Kantin Ibun Zio yang berada di SMP N 16 Surakarta. (TribunWow.com/Adi Manggala Saputro)

 Wulan menceritakan, sebelum memiliki usaha mapan di kantin, suaminya sempat dirundung masalah pelik.

 Tak disangka, Tri Purwanto yang sudah mengabdikan dirinya di salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Karanganyar harus berakhir memilukan karena kerap mengalami penunggakan gaji.

 Hingga akhirnya, keputusan sulit untuk resign harus diambil Tri Purwanto untuk bisa menyambung hidup keluarga kecilnya.

 “Imbas covid-19, perusahaan udah mulai enggak normal.  Kalau tutup sih belum tutup, tapi efisiensinya kurang misalnya dalam pembayaran jadi kan kadang-kadang mundur. Itu pengocoran besi.  Padahal saya sudah kerja di besi itu sudah 12 tahun lamanya,” cerita Tri Purwanto seraya mengingat masa pelik itu.

 Status karyawan tetap yang sudah disandang itu pun mau tidak mau harus dilepaskan.

 Tri Purwanto juga menceritakan bagaimana seluk beluk dirinya dahulu saat masih berjuang mencari nafkah di pabrik tersebut demi menopang ekonomi keluarganya.

 “Sistemnya kontrak, itu jadi sebenarnya udah karyawan tetap, cuma terus kan ganti manajer itu terus berubah secara kebijakan semenjak covid itu.”

 “Kalau dulu itu kontraknya lama tapi semenjak covid itu biasanya kontraknya 3 bulan. 3 bulan itu perpanjang kontrak. Kalau 3 bulan itu dilihat absensinya bagus, diperpanjang lagi 6 bulan jadi berjangka terus. 3 bulan pertama kontraknya,” ungkap Tri Purwanto.

 Seraya mendengarkan cerita sang suami mengenang masa sulit itu, Wulan ikut menceritakan pengalaman suaminya yang pernah alami penunggakan gaji selama 15 hari lamanya.

 “Soalnya duit gaji suami itu bisa terlambat sampai 15 hari,” sahut Tri Wulan.

 Sejatinya, Wulan mengaku sangat menyayangkan suaminya resign dari tempat kerja yang sudah 12 tahun ditekuninya.

 Namun apa daya, gaji yang dicicil buat keputusan sulit untuk resign tak bisa terelakan.

 Mengingat, himpitan ekonomi jadi faktor tekat bulat resign itu dipilih oleh Tri Purwanto atas dasar pertimbangan sang istri.

 “Dulu sebenarnya sayang juga saat itu harus resign. Temannya juga sudah banyak, maneman. Tapi gajimu yang dicicil ini tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok dirumah. Awalnya cuma lima hari, tujuh hari itu telatnya.Yang terakhir-terakhir itu sampai lima kali lagi, itu namanya kumpulin gaji,” bongkar Wulan.

 Tak cuma gaji, Tunjangan Hari Raya (THR) yang notabene merupakan hak pekerja juga dicicil.

 Bahkan dicicil dengan nominal tak menentu di setiap bulannya.

 “THR itu juga dicicil, itu kan reward. Itu dicicil enggak pasti, setiap bulan keluar. Dicicil sebulan 200, tapi tidak pasti, setiap bulan keluar tapi enggak pasti berapa persennya. Kadang 14 persen, kadang berapa persen. Itu sudah ada yang pernah speak up di email, tapi terus itu ada masalah,” ungkap Wulan.

Lindungi Hak Pekerja dan Jamin Masa Depan Lebih Baik

Tak berselang lama setelah resign, Tri Purwanto memutuskan untuk mengurus sendiri BPJS Ketenagakerjaan miliknya.

 Tri Purwanto mengatakan, mengurus proses administrasi pencairan dana dari BPJS Ketenagakerjaan sangat mudah.

 Bahkan hanya memakan waktu satu minggu hingga akhirnya di wawancarai oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan melalui video call.

 “Dari BPJS Ketenagakerjaan kan ada tenaga kerja, kesehatan sama pensiun. Tenaga kerja itu saya ngurus sendiri. Mungkin dapat surat dari perusahaan. Langsung saya online ke BPJS Ketenagakerjaan. Nunggu satu minggu, satu minggu langsung cair, itu mudah banget. Di telfon lebih dulu dan diwawancarai, wawancara dilakukan dengan video call,” ungkap pria asli kelahiran Tasik Madu tersebut.

 Setelah mendapatkan dana BPJS Ketenagakerjaan, dirinya memutuskan untuk mengalokasikan uang tersebut ke beberapa kebutuhan.

 Paling mendesak yakni untuk pelunasan utang.

 Sedangkan sisanya dialokasikan untuk ditabung serta modal usaha istri untuk berjualan makanan di kantin sekolah.

 “Kalau namanya orang rumah tangga itu kan lumrah jika mempunyai utang, nah, sebisa mungkin uang itu buat melunasi utang itu. Terus kan masih ada sisa sisanya itu saya tabung dulu. Terus kan istri saya jualan di rumah sama nitip di kantin,” ujarnya.

 Setelah resign, Tri Purwanto memilih untuk fokus membantu istri berjualan di rumah.

 “Saya ikut fokus jualan, yang penting masih ada tabungan. Dulu enggak langsung dapat kantin, nunggu beberapa waktu dulu. Alhamdulilahnya, sekarang sudah tidak ada pinjaman tinggal fokus buat usaha,” lanjutnya.

 Tepat di bulan Agustus tahun 2023, Tri Purwanto dan Wulan mulai untuk rintis usaha kantin di SMP N 16 Surakarta.

 Setelah putuskan untuk membuka usaha baru, mau tidak mau, uang yang tadinya ada di tabungan kembali diambil untuk diputarkan.

 “Setelah dapat ini dapat kantin dua tahun yang lalu, Agustus 2023. Nah itu uang yang ditabungkan itu diambil dulu. Diambil buat perputaran, terus alhamdulillah masih jalan sekarang bahkan sudah punya tabungan lagi. Dulu, baru beberapa bulan dimasukkan sudah diambil lagi buat modal. Sekarang sudah ada tabungan karena sudah ada anak yang harus diprioritaskan,” ujarnya.

 Tak disangka, usaha baru keduanya berhasil buka jalan masa depan yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

 Satu per satu hasil dari usaha kantin mulai menunjukkan perkembangannya.

 “Kalau perkembangan ya alhamdulillah, awal mula kan kita tidak punya itu Softcase kulkas, sekarang kan sudah punya. Alhamdulillah dari awal sampai sekarang ya ada perkembangan lainnya,” jelas Wulan.

 Untuk menu yang dijajakan di kantinnya, Tri Purwanto dan Wulan menyediakan aneka makanan dan minuman.

 Bahkan, beberapa makanan mereka produksi sendiri seperti gorengan dan nasi.

 Hal itu dilakukan agar keduanya bisa meraup laba lebih banyak ketimbang hanya mengandalkan makanan titipan dari orang lain.

 “Ini banyak, kalau nasi itu ada nasi ricis, ayam katsu dan bakso kuah. Kalau untuk gorengan banyak yang dibuat sendiri. Soalnya kan kita kerja berdua, kalau semua titipan kan labanya enggak bagus,” terangnya.

Selain ingin mengembangkan kantin miliknya, Tri Purwanto dan Wulan ingin membuka usaha baru yakni es teh jumbo.

 Rencananya, usaha itu nantinya bakal dibuka di daerah area kampus UNS

 “Maunya sih buka usaha baru. Cuma cari tempatnya susah mau buka es the jumbo daerah kampus itu kan lumayan di UNS,” ungkap Wulan.

 Dari Hak Pekerja ke Masa Depan yang Lebih Terjamin

 Lebih lanjut, Tri Purwanto menceritakan mimpi keluarga kecilnya yang satu per satu mulai terwujud setelah dibantu oleh BPJS Ketenagakerjaan pasca resign dari perusahaan tempatnya bekerja.

 Mulai dari utang yang lunas, tabungan kembali pulih, investasi di peternakan dan emas hingga berencana untuk buka usaha baru.

 “Kalau buat muter, alhamduliah kembali. Tabungannya sudah kembali dengan nominal sama. Alhamdulillah, rumah saya kan di sini sama di desa, di sini kan ikut mertua. Kalau aslinya kan di Tasik Madu, Karanganyar. Di sana sudah membeli sapi satu,” jelas Tri Purwanto.

 “Terus ya emas-mas saya sudah kembali, alhamdulillah juga sekarang udah enggak ada utang,” imbuh Wulan.

 Untuk bisnis jual beli sapi, Tri Purwanto menjual sapinya hanya saat momen Idul Adha.

 Di mana, pada momen Idul Adha itu, harga sapi meningkat drastis.

 “Enggak, setiap hari kurban harganya naik. Kalau tiga bulan yang itu kan buat, itu ada juga. Tiga bulan itu kan buat dijual dagingnya. Dulu emang rencananya gitu, tiga bulan. Tapi kan kita mempunyai usaha gini.”

 “Kalau di kampung, pulang balik kampung, jauh. Jadi yang di kampung itu, yang mengurus itu ayah saya. Jadi kalau mau menjual, pasti setiap kurban aja, setahun sekali,” jelas Tri Purwanto.

 Sebagian hasilnya dicicil untuk membangun rumah di desa dikit demi sedikit.

 “Ini juga baru nabung buat rumah di desa sedikit-sedikit,” ujar Wulan seraya menunjukkan raut wajah bahagianya.

 Sementara itu, ketika bulan puasa, Wulan memutuskan untuk berjualan dirumah seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

 “Tapi kan kalau di sini puasa sama liburan sekolah libur, jadi jualan di rumah. Dulu kan awal jualan itu juga dibantu suami, suami yang delivery. Suami yang delivery, saya yang jualan di rumah.  Jualan kayak mie, bakso bakar, bakso goreng, gorengan juga.”

 “Minimal order dulu habis Rp100.000 ke atas free ongkir, adanya delivery juga buat jualannya dulu cepat habis. Sebenernya ninggalin itu sayang, cuma kalau dua jalan nggak bisa,” kenangnya.

Untuk penghasilan di kantin, Wulan mengaku bersyukur karena mendapatkan pendapatan yang terbilang konsisten.

Bahkan, 50 dus nasi dengan harga Rp5.000 selalu habis di jam pertama istirahat.

“Di sini enggak ada istirahatnya. Jajanannya habis goreng lagi, habis goreng lagi, Alhamdulillah rame. Saya kalau jualan nasi itu sehari  hampir 50 dus Rp5.000-an. Itu cuma habis di jam pertama, jam kedua udah nggak ada lagi.”

“Yang bikin nasi itu ibu yang bantuin aku. Bakso itu juga tiap hari bikin.  Jadi setiap hari itu bikin bakso,” ungkapnya.

Untuk penghasilan, Wulan mengaku memiliki pemasukkan lebih untuk membayar sewa tempat kantin yang digunakannya saat ini.

“Sewanya Rp300.000 sampai 500.000, alhamdulilah tercover dan malah lebih,” ujarnya. 

 Jamin Keberlangsungan Hidup di Hari Tua

 Selain dirinya, Wulan juga menceritakan peran besar negara melalui BPJS Ketenagakerjaan yang dirasakan oleh kedua orang tuanya.

 Wulan berujar, di hari tua, kedua orang tuanya sama sekali tidak memberikan beban kepada anak-anaknya.

 Meski dirinya saat ini hanya tinggal memiliki ayah setelah ibundanya meninggal beberapa waktu lalu.

 Di mana, sebelum meninggal dunia, ibunda Wulan masih aktif bekerja di satu di antara pabrik swasta.

 Hingga akhirnya, BPJS Ketenagakerjaan milik sang ibu bisa cair dan turut membantu meringankan beban keluarganya.

 Mengingat, setiap tiga bulan sekali, ayah Wulan mendapatkan bantuan dari BPJS Ketenagakerjaan.

 Namun dengan catatan, ayah Wulan tak menikah lagi.

 “Saya juga ada cerita, ibu saya kan kerja di perusahaan juga. Sekarang beliau sudah meninggal dunia. Tapi saat itu beliau masih aktif bekerja, seusai meninggal dunia, keluarga mendapatkan bantuan sebesar Rp60.000.000.”

 “Selama ayah nggak nikah itu tiga bulan sekali mendapatkan itu jadi itu bantu banget. Ayah saya kan juga sudah tidak bekerja. Kerja di pabrik sudah lama sekali saat belum menikah sama ibu, terus ayah saya resign dulu, tapi ibu masih sampai meninggal dunia,” terang Wulan.

 Awalnya, Wulan tak mengira keluarganya bakal mendapatkan cover dari BPJS Ketenagakerjaan dengan nominal besar.

 Wulan baru percaya setelah dirinya mendapatkan penjelasan langsung dari BPJS Ketenagakerjaan.

 “Iya, itu saya nggak memperkirakan dapet segitu. Ternyata pabriknya itu memberikan cover semuanya. Dikira ayah dan ibu dulu Cuma mendapatkan tenaga kerja sama kesehatan saja, ternyata juga turut mendapatkan dana pensiun. Itu yang menjelaskan langsung dari pihak BPJS Ketenagakerjaan.”

 “Ini nanti ayah kesini setiap tiga bulan sekali ya. Nanti tinggal foto di depan aja sama ngumpulin berkas,” kenang Wulan menirukan arahan dari pihak BPJS Ketenagakerjaan.

 Hingga saat ini, Wulan juga lah yang turut membantu dalam proses pencairan bantuan tersebut ke BPJS Ketenagakerjaan.

 “Ya, saya yang antar tiap tiga bulan sekali. Itu langsung di transfer. Jadi sistemnya kayak absen dulu. Kalau masih hidup, kalau belum menikah lagi. Ayah itu sebulannya Rp300.000 sekian, jadi kalau tiga bulan sekali sekitar 1 juta, itu seumur hidupnya ayah itu. Kalau ayah sudah selesai, ya selesai. Tapi kalau ayah menikah lagi, itu juga hilang,” jelasnya.

 Lebih lanjut, uang bantuan itu sempat coba diputarkan ayahnya untuk usaha ikan lele.

 Namun, riwayat ayah Wulan yang memiliki penyakit jantung dan sering ngedrop membuatnya memilih untuk beralih ke pelihara ayam.

 “Jadi dana pensiun dari ibu itu masih ada sampai sekarang. Beberapa sempat dipakai ayah untuk usaha lele. Namun, karena kondisi kesehatan ayah yang sering ngedrop saat ini berhenti dan beralih ke pelihara ayam untuk isi waktu saja. Tidak buat usaha kayak yang lele itu.  Biar tidak lupa ingatan saja, biar ada aktivitas,” ceritanya.

 Untuk biaya hidup, Wulan menceritakan jika sang ayah sudah tercukupi dari bantuan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan yang diberikan ke almarhumah ibundanya.

 “Cuma kan kalau buat menghidup ayah secara pribadi masih bisa dari BPJS Ketenagakerjaan yang diberikan tiap tiga bulan. Sangat membantu, jadi tidak ada tanggungan ke anak-anak,” bebernya.

Lima Program dan Manfaat Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Solo, Teguh Wiyono menjelaskan tentang lima program jaminan sosial yang bisa dirasakan masyarakat pekerja dengan dibedakan menjadi dua yakni pekerja formal dan informal.

Formal yakni para pekerja yang didaftarkan secara langsung oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sedangkan informal yakni para pekerja mandiri di luar perusahaan di antaranya seperti UMKM, Ojek Online (Ojol), dan sebagainya.

"Program jaminan sosial itu ada lima, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP) dan kehilangan pekerjaan," beber Teguh Wiyono kepada TribunWow.com, Rabu (6/11/2024). 

Teguh menjelaskan secara detail apa manfaat penting para masyarakat pekerja ikut serta dalam program jaminan kecelakaan kerja mulai dari fasilitas yang didapat hingga santunan yang akan diberikan.

"Salah satunya tadi program jaminan kecelakaan kerja, memberikan perlindungan terhadap risiko kecelakaan yang ada hubungannya dengan pekerjaan, ada hubungannya itu ya saat berangkat dari rumah ke tempat kerja, kemudian saat di lingkungan pekerjaan, kemudian saat kembali lagi, itu lingkup program kecelakaan kerja."

"Manfaatnya apa, ya tadi kalau ada risiko kecelakaan, pengobatannya ditanggung sampai sembuh, kemudian jumlah hari yang ditinggalkan karena dokter dan dirawat tadi, penghasilannya hilang diganti oleh BPJS Ketenagakerjaan, kemudian kalau ada kecacatan, dihitung kecacatanya tersebut dengan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan, kemudian kalau kecelakaan tadi kemudian meninggal dunia, maka diberikan santunan 48 kali upah yang dilaporkan," jelasnya.

Potret Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Solo, Teguh Wiyono.
Potret Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Solo, Teguh Wiyono. (HO TribunWow.com)

Sementara untuk program jaminan pensiun, Teguh mengatakan para ahli waris korban terdampak akan mendapatkan dana pensiun per bulan dan juga beasiswa untuk anak mulai dari TK sampai dengan perguruan tinggi sebanyak dua orang.

"Ditambah lagi kalau ikut jaminan pensiun, pensiun tiap bulannya untuk ahli warisnya, kemudian untuk anaknya diberikan beasiswa dari TK sampai perguruan tinggi, untuk dua orang maksimal Rp 174 Juta," lanjutnya.

Lebih lanjut, Teguh juga turut membeberkan fasilitas yang didapatkan jika para masyarakat pekerja ikut serta dalam program jaminan sosial kematian.

"Untuk program kematian, maka akan diberikan santunan kematian meninggal sebab apapun yang penting di luar hubungan kerja, saat jalan-jalan meninggal dunia, kecelakaan ya dapatnya Rp 42 Juta, dia sakit karena penyakit dan meninggal dunia itu dapat Rp 42 juta," jelasnya.

Apabila sudah ikut program jaminan kematian selama tiga tahun, anak dari masyarakat pekerja tersebut akan mendapatkan bantuan beasiswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi untuk dua orang.

"Kemudian kalau sudah ikut selama tiga tahun program jaminan kematian, anaknya pun diberikan bantuan beasiswa dari TK sampai perguruan tinggi untuk dua orang anak," ungkap pria kelahiran Karanganyar tersebut.

Kemudian ada lagi program jaminan hari tua.

Di mana, program jaminan hari tua ini tak ubahnya seperti menabung.

Iuran setiap bulan dengan suku bunga deposito yang bisa didapatkan di atas rata-rata 2 persen.

"Kemudian jaminan hari tua, ini sifatnya seperti tabungan, jadi iuran tiap bulan akan diberikan pengembangan, boleh diambil saat yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi, pengembangannya pasti di atas rata-rata suku bunga deposito itu di atas 2 persen tadi," ujarnya.

Di sisi lain, meski ada dua kategori yakni pekerja formal dan informal, secara santunan program, keduanya memiliki besaran yang sama.

"Semua program sama santunannya, meski formal maupun informal, dulunya pekerja aktif dan sekarang sudah mandiri itu tetap sama," lanjut Teguh.

Di sisi lain, Teguh turut memberikan pesan kepada generasi Milenial dan Gen Z yang cenderung lebih suka pekerjaan mandiri untuk ikut serta dalam program jaminan sosial BPJS

Ketenagakerjaan sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Melihat kondisi sekarang ini kan banyak pekerjaan-pekerjaan yang mandiri, generasi sekarang kan kebanyakan tidak mau terikat, maunya kerja mandiri suka-sukalah yang penting punya penghasilan, walaupun yang bersangkutan mampu dan berpenghasilan besar, namun, suatu saat ada risiko, dia tidak punya jaminan sosialnya tadi pasti akan memberatkan."

"Jaminan sosial pekerjaan ini, ini adalah bukti negara hadir, maka, negara hadir itu memperhatikan kesejahteraan masyarakat pekerjanya, maka harus diikuti, karena apa, itu tadi untuk jaga-jaga, Namanya perlindungan itu kan untuk jaga-jaga, kalau tidak ada risiko ya alhamdulilah, kalau ada risiko sudah tak memberatkan lagi," pungkasnya.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
BPJS KetenagakerjaanJaminan Hari Tua (JHT)Jaminan KematianJaminan Pensiun
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved