Ia pun mengalami hukuman yang sama saat satu peletonnya kedapatan melanggar aturan.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada kekerasan fisik selama pelatihan.
“Jiwa korsa lebih tinggi aja,” ucapnya tentang kebersamaan yang terbangun.
Siswa lainnya, MRJ, juga membantah adanya perlakuan kasar.
Ia justru mengaku dengan pelatihan yang diberikan, kini dia mulai meninggalkan kebiasaan bermain gim secara berlebihan.
“Sekarang sudah sadar akhirnya, enggak boleh menyia-nyiakan waktu. Jadi lupa sama gim online karena banyak teman di sana. Makannya juga enak, terus di sana jam 22.00 WIB sudah harus tidur setiap hari. Janji mau dikurangi main gimnya.”
Para siswa kompak menyatakan tidak pernah mengalami kekerasan fisik selama program berlangsung.
Mereka malah diajarkan rutinitas positif seperti bangun pagi, shalat subuh, senam, belajar, dan baris-berbaris. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Para Siswa Ceritakan Perlakuan TNI yang Ubah Hidup Mereka 2 Pekan di Barak Militer."