"Terpenting adalah keselamatan bersama bukan ego, kita mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," tutupnya.
Meski memiliki tugas yang berat, steward sepak bola memiliki keuntungan tersendiri yang bisa dijadikan lecutan semangat mengamankan pertandingan.
Salah satunya yaitu bisa bertemu dan melihat langsung orang-orang terkenal dalam persepakbolaan nasional dan internasional.
Seperti yang dirasakan steward sepak bola bernama Putra Rahtadi yang bisa bertemu dengan wasit fenomenal Piala Dunia, Pierluigi Collina.
Putra merinding bisa melihat wasit yang berkapala plontos itu, sayangnya ia tidak bisa mengabadikan momen bersama karena harus memegang teguh profesionalitasnya sebagai steward sepak bola.
"Pengalaman paling berkesan saya waktu Piala Dunia U-17, saya dipercaya sebagai supervisor steward area official," jelas Putra ketika diwawancara TribunWow.com, pada Senin (3/3/2025).
"Saya bisa papasan dengan wasit Collina, sebagai profesional tidak bisa foto, papasan saja sudah senang," ucapnya sambil tertawa.
Pertemuan dengan Collina bisa menjadi obat lelah dan alasan Putra bertahan bekerja di PT Senapati, tak terkecuali menjadi steward sepak bola.
Putra yang bergabung sejak 2022, berharap PT Senapati bisa lebih besar lagi agar bisa dipercaya untuk mengamankan pertandingan sepak bola di seluruh Indonesia.
Stadion Tempat Nyaman
Ketua Panita Pelaksana (Panpel) Pertandingan Stadion Manahan, Ginda Ferachtriawan, mengacungi jempol peran steward sepak bola yang bertugas di markas Persis Solo tersebut.
Ginda menilai steward sepak bola di Stadion Manahan mampu melakukan tugas-tugasnya dengan baik, bukan hanya mengamankan pertandingan tapi juga memberikan kenyaman penonton.
“Karena steward itu bukan hanya mengamankan saja, tapi juga memiliki fungsi safety dan hospitality,” kata Ginda saat diwawancara TribunWow.com. pada Minggu (9/3/2025).
Namun memang tidak dapat dipungkiri, ada beberapa situasi yang tidak bisa dikendalikan oleh steward sepak bola selama mengamankan pertandingan BRI Liga 1.
Ginda teringat momen miris ketika suporter yang terlalu fanatik melontarkan kata-kata kasar hingga cenderung rasialisme pada pemain atau ofisial.
Panpel petandingan dan steward sepak bola masih kesulitan untuk mengantisipasi serta memberikan respons dengan sikap para oknum suporter yang tidak patut dicontoh tersebut.
“Saya paling sedih ketika di stadion ada umpatan yang terlalu kasar atau bahkan rasist, kita sangat menyayangkan,” tegas dia.
“Kasihanlah anak-anak belum umurnya sudah mendengar hal itu,” jelasnya.
Lantas, Ginda mengutarakan harapannya pada PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) membantu mengatasi hal tersebut dan berperan lebih besar lagi agar stadion menjadi tempat yang nyaman untuk semua kalangan.
“Kita berharap stadion itu bukan hanya aman tapi juga nyaman, harapan saya PSSI, PT LIB, serta pemerintah bisa membantu supaya stadion itu aman dan nyaman,” ujar mantan Anggota DPRD Kota Surakarta itu.
(TribunWow.com/Khistian Tauqid Ramadhaniswara)