Berita Viral

Kisah di Balik Viral 2 Bocah SD Dayung Sampan Sebrangi Sungai demi Sekolah, Ini Kata Ortu dan Kades

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Muhammad Ammar Ramadhan dan Muhammad Rifki warga asal Bone menyeberangi sungai demi ke sekolah di SD 139 Lare-rea, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

TRIBUNWOW.COM - Viral video yang memperlihatkan dua siswa Sekolah Dasar (SD) mendayung sampan menyebrangi sungai demi bisa bersekolah, ini kisah di baliknya.

Video itu viral seusai diunggah oleh sejumlah akun media sosial, satu di antaranya akun TikTok @muhyusnandark.

Dalam video yang viral tampak dua bocah laki-laki SD itu terlihat bekerja sama mendayung sampan demi sampai ke sekolahnya.

Baca juga: Sosok Oknum Pelatih Renang yang Tendang Alat Vital Guru Jadi Tersangka, Kini Menyesal dan Minta Maaf

Satu orang mendayung di depan, dan satunya lagi di bagian belakang.

Keduanya tampak mengenakan baju seragam SD lengkap dengan topi di kepala dan tas yang digendong.

Namun, keduanya terlihat tidak memakai pelampung.

Pengunggah mengatakan bahwa bocah SD itu tinggal di pinggiran Bone, Sulaswesi Selatan, sedangkan sekolahnya berada di Sinjai.

"Dia Tinggal di Pinggiran Bone demi masa depan memilih Jalan satu-satunya Untuk sekolah di Sinjai," tulis pengunggah saat membalas komentar netizen, dikutip pada, Selasa (6/8/2024).

Selain itu, pengunggah juga mengatakan jalur yang dilewati bocah SD itu pun terbilang rawan.

"Jalur yg dia Lewati Juga Agak Lumayan Rawan kasian," tulisnya.

Sosok Bocah SD

Setelah ditelusuri, nama dua bocah SD itu adalah Muhammad Ammar Ramadhan dan Muhammad Rifki.

Aksi keduanya begitu menyita perhatian setelah viral di media sosial.

Diketahui, keduanya berdomisili di Borong Kalukue.

Ammar dan Rifki setiap harinya harus menyebrangi Sungai Tangka demi menuntut ilmu.

Ammar dan sepupunya itu bersekolah di SD 139 Lare-rea, Kabupaten Sinjai.

Beredar sebuah video yang menunjukkan dua siswa sekolah dasar (SD) mendayung sampan menyebrangi sungai, viral di media sosial. (TikTok @muhyusnandark)

Baca juga: Viral Detik-detik Polisi Nyangkut di Kap Mobil Terseret 500 Meter di Kudus, Ini Penyebabnya

Kini, keduanya duduk dibangku kelas 2 SD.

Jarak yang cukup jauh dan terbatasnya akses jalan darat membuat dua bocah SD ini memilih bersekolah di Sinjai, Kabupaten tetangga.

Orang tua Ammar, Faidah mengungkap alasan menyekolahkan anaknya di Sinjai.

"Saya lebih memilih anak saya sekolah di Sinjai karena aksesnya lebih dekat, naik perahu sampan," kata Faidah (39), orang tua Ammar, dikutip dari Tribun-Timur.com.

Sedangkan apabila disekolahkan di wilayah Massangkae Bone, jarak dari kediamannya pun cukup jauh.

Belum lagi anak-anak harus melewati empang.

"Tidak ada jalanan karena empang semua. Dan anakku takut lewat empang, takut jatuh. Kalau di Sinjai dekat, naik sampan saja, dan tidak jauh jalan kaki,” katanya.

Namun apabila anaknya sekolah di Desa Massangkae maka setiap hari mereka harus berjalan kaki sekira 5 km.

“Saya tinggal di pesisir pantai paling ujung di Bone. Sebenarnya bukan anakku saja karena semua yang tinggal di sini lebih memilih menyekolahkan anaknya di Sinjai," ungkapnya.

Faidah memiliki empat anak dan semuanya bersekolah di Sinjai.

"Anak pertama sudah selesai, anak kedua sementara kuliah, dua lainnya masih duduk di SD dan sekolah semua di Sinjai tidak ada sekolah di Bone,” jelasnya.

Menurut Faidah, anak-anak di pesisir Bone terutama warga Desa Massangkae sudah terbiasa menggunakan sampan sebagai alat tranportasi.

Mereka tidak takut menyebrangi sungai, meski cuaca buruk.

"Anak saya tidak pernah takut, meski angin kencang atau air naik," ujarnya.

Faidah berharap pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan pendidikan utamanya di daerah pesisir dan terpencil.

Baca juga: 5 Fakta Viral Pelatih Renang Tendang Alat Vital Guru Olahraga Wanita hingga Pingsan, Korban Trauma

Penjelasan Kepala Desa

Kepala Desa Massangkae Muhammad Asri Arsyad membenarkan bahwa banyak warganya, terutama yang tinggal di daerah pesisir memilih menyekolahkan anak-anak mereka di Sinjai.

Ia mengatakan akses ke Sinjai terhitung lebih mudah.

"Akses ke sana lebih mudah. Mereka sudah terbiasa dengan kehidupan di pesisir dan menggunakan perahu," ungkapnya.

“16 KK semua di sini, tapi cuman 11 KK yang ber-KTP Bone yang lainnya Sinjai. Dan mereka memilih menyekolahkan anaknya di Sinjai karena dekat," jelasnya.

Daerah Borong Kalukue memang pesisir pantai paling di ujung di Kabupaten Bone sehingga anak di sana sudah terbiasa menggunakan sampan

"Kalau untuk jumlah keselurahan anak yang sekolah di desa saya itu ada 11 anak. Tujuh SD, dua SMP dan satu SMA. Semua di Sinjai sekolah," tandasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Viral 2 Bocah SD Dayung Sampan Sebrangi Sungai di Sulsel Demi Bisa Sekolah, Ortu Sentil Pemerintah